Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

7 FAKTA TUHAN YESUS MATI PADA HARI JUMAT

3. Fakta Tuhan Yesus Mati Pada Hari Jumat Berdasarkan Konsep Waktu Tradisi Yahudi

Fakta Tuhan Yesus mati hari Jumat yang ketiga ialah berdasarkan perhitungan waktu Yahudi yang perlu kita pahami.

Alkitab tidak secara khusus mencatat pada hari apa Yesus disalibkan. Tetapi pandangan bahwa Tuhan Yesus mati pada hari Rabu, menitikberatkan pada Injil Matius 12:40, “… Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”

Menurut pandangan ini, jika beranggapan Yesus mati pada hari Jumat maka hal itu bertentangan dengan Mat 12:40, yang menyebutkan Yesus tinggal di rahim bumi selama tiga hari tiga malam. Dengan kata lain, Yesus berada di perut bumi selama 72 jam penuh.

Perhitungan waktunya adalah satu hari memiliki waktu 24 jam, jika tiga hari maka Yesus mati dan dikuburkan seharusnya selama 72 jam. Jadi Yesus mati dan dikuburkan selama 72 jam, tiga hari dan tiga malam. Argumen tersebut menolak bahwa Yesus mati pada Jumat Agung.

Disebutkan lebih lanjut, dalam Imamat 23:5, hari Paskah jatuh pada tanggal 14 bulan Nissan,  berarti Tuhan Yesus ditangkap dan mati pada tanggal 14 bulan Nisan. Yesus meninggal kira-kira jam tiga, di hari Rabu, pada 14 Nissan (Yoh 19:14; Mat 27:45-50).

Baca juga: Mengasihi Tanpa Pamrih (1 Yohanes 4:9-12)

Mereka sebutkan Tuhan Yesus Dikuburkan sebelum jam 6 sore dan terhitung berdasarkan konsep waktu Yahudi, dari Rabu jam 6 Sore – Kamis Jam 6 sore (24 jam); hari pertama, Kamis jam 6 Sore – Jumat 6 sore (24 jam): hari kedua, Jumat 6 sore – Sabtu 6 Sore (24 jam); hari ketiga. Maka total 72 jam. Bila di teliti maka ini melesat tidak pas 72 jam tetapi lebih. Sebab kematian Kristus di atas kayu salib juga seharusnya dihitung.

Tuhan Yesus mati jam 3 sore, berarti dari jam 3 sore ke jam 6 sore, Rabu, ada 3 jam. Bila dihitung seharusnya 75 jam bukan 72. Belum lagi bila dihitung sampai waktu kebangkitan Kristus.

Maka dapat disimpulkan, penafsiran ini sebenarnya meleset, juga tanpa melihat konsep waktu menurut tradisi Yahudi. Argumen mereka yang menolak Tuhan Yesus mati pada hari Jumat ini hanya menimbulkan pertentangan saja dan kurang tepat dalam menganalisa Alkitab.

Menafsir Alkitab itu, tidak hanya bisa kita melihat kata perkata atau di eksegese, tetapi kita juga harus melihat konteks jauh dan konteks dekat. Bahkan kita perlu melihat budaya, wilayah, ekonomi, politik, dan situasi pada konteks jaman Alkitab ditulis. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran, tentunya juga dengan pertolongan Roh Kudus yang membukakan pengertian kita.

Yang tidak kalah penting yang juga harus diketahui oleh orang Kristen pada umumnya adalah mengenai waktu “mulainya hari baru” menurut konsep tradisi Yahudi. Ini dia jawaban akurat mengenai tuduhan Yesus di perut bumi selama 72 jam.

Perhitungan hari dalam budaya Yahudi, didasarkan pada Referensi ayat Alkitab pada kisah penciptaan yang tertulis dalam kitab kejadian 1, yakni “Jadilah petang dan jadilah pagi.”

Sebagaimana menurut penafsiran rabinik klasik atas teks ini, satu hari bagi orang Yahudi dimulai dari matahari terbenam yakni petang, hingga keesokkan hari matahari terbenam, yakni petang. Memasuki hari dimulai pukul 06.00 sore sampai 06.00 sore di hari berikutnya.

Berbeda dengan konsep perhitungan pada umumnya termasuk di Indonesia, dalam memasuki hari berikutnya, dimulai pukul 00.00 dini hari sampai keesokkan harinya pukul 00.00 pada dini hari.

Selain itu, dalam budaya Yahudi satu hari tidak mempunyai panjang yang tetap. Bagian dari satu hari, sependek apa pun, akan tetap dihitung sebagai satu hari penuh.

Mengingat Kitab Suci ditulis dengan latar belakang budaya atau pemahaman Yahudi, maka kita harus menerima keseluruhan cara penghitungan hari menurut kebiasaan Yahudi, termasuk cara menghitung jumlah hari secara inklusif, yakni beberapa jam sebelum jam 6 sore sudah dihitung satu hari penuh.

Kita tidak bisa mengadopsi hanya sebagian, yaitu menghitung hari mulai jam 6 sore sampai jam 6 sore berikutnya, tetapi menghitung jumlah hari sesuai pengertian kita pada zaman sekarang (sehari harus 24 jam). Pemahaman macam ini tidak cocok dengan pemahaman Yahudi yang dengannya Kitab Suci dituliskan, dan akibat pemaksaan hari harus 24 jam, akhirnya membuat orang menjadi salah paham.

Jadi, tidak harus 24 jam lantas disebut satu hari, hanya terhitung beberapa jam saja, sudah dihitung satu hari.

Hal ini terlihat dalam kisah Ester ketika ia akan berpuasa menghadap Raja (Ester 4:16-5:1). Ester meminta seluruh bangsanya untuk berpuasa tiga hari lamanya, di waktu malam maupun waktu siang, namun pada hari ketiga ia menemui Raja. Meski Ester berpuasa bukan tiga hari penuh, tetapi terhitung tiga hari lamanya berpuasa.

Baca juga: Mengasihi Tanpa Syarat (Yohanes 21:15-17)

Mathew Henry menjelaskan “Ia berada di dalam kubur sama lamanya seperti Yunus dalam perut ikan, tiga hari dan tiga malam; bukan tiga hari dan tiga malam penuh, karena mungkin Yunus tidak tinggal di dalam perut ikan selama itu, melainkan selama tiga hari secara umum (orang Yunani menyebutnya nychthemerai) …. Cara pengungkapan seperti ini sudahlah biasa (lih. 1 Raj. 20:29, Est. 4:16, 5:1, dan Luk 2:21). Selama itulah Yunus menjadi tawanan bagi dosa-dosanya sendiri, dan selama itu pulalah Kristus menjadi tawanan bagi dosa-dosa kita.”

Tiga hari tiga malam bukanlah memiliki arti harfiah, yakni 27 jam, melainkan sebagaimana perhitungan waktu Yahudi, walau tidak 24 jam telah dihitung sehari.

 

 

4. Fakta Tuhan Yesus Mati Hari Jumat Berdasarkan Kronologis Penyaliban

Fakta Tuhan Yesus mati hari Jumat yang keempat ialah berdasarkan kronologis penyaliban yang menyiratkan Tuhan Yesus mati hari Jumat.

Menurut pandangan Tuhan Yesus mati pada hari Rabu ini, bahwa Kristus ditangkap pada Selasa malam di Getsemani. Kemudian semalaman ia disidang, dibawa ke Kayafas, Herodes, dan Pilatus. Setelah pagi Ia dihadapkan kepada khalayak ramai, dan mereka berseru, “salibkan Dia”.

Kemudian Kristus dipaksa memikul salib-Nya menuju bukit Golgota, dan kira-kira jam 09.00 pagi Kristus di paku tangan dan kaki-Nya ke dua batang kayu yang berbentuk palang. Kristus disalibkan di atas kayu salib.

Pada jam 12.00 siang matahari menjadi gelap hingga jam 15.00. Dan pada jam 15.00, Tuhan Yesus Kristus meninggalkan tubuhNya, Ia mati di atas kayu salib. Melihat Yesus telah mati, Yusuf Arimatea dan Nikodemus pergi menghadap Pilatus untuk meminta ijin menguburkan tubuh-Nya.

Setelah mereka kembali ke Golgota, menjelang petang, mereka menguburkan tubuh Kristus ke dalam kubur Yusuf Arimatea, pada hari Rabu sekitar jam 18.00 petang. Maka Rabu jam 6 sore adalah masuk pada hari Kamis sesuai dengan cara hitung hari orang Yahudi.

Baca juga: Mencintai Walau Harus Terluka, Ini Bukti Kasih

Sampai Kamis sore atau magrib maka satu malam satu hari, kemudian sampai Jumat sore atau magrib, maka dua malam dua hari, dan sampai Sabtu sore maka tiga malam tiga hari. Maksudnya Rabu jam 6 sore – Kamis jam 6 sore (terhitung hari Kamis: hari pertama), Kamis jam 6 sore – Jumat 6 sore (terhitung hari Jumat: hari kedua), dan Jumat 6 sore – Sabtu 6 sore (terhitung hari Sabtu: hari ketiga).

Sabtu sesudah magrib adalah hari Minggu atau hari pertama minggu. Pada saat inilah Kristus bangkit yaitu sesudah tubuh-Nya persis tiga malam tiga hari di dalam perut bumi.

Seperti inilah pandangan yang beranggapan Tuhan Yesus mati pada hari Rabu. Apakah benar kronologis yang dijelaskan di atas?

Alkitab menjelaskan bahwa hari di mana Yesus dikubur adalah menjelang malam dan hari itu adalah hari persiapan, yakni hari menjelang Sabat (Mat. 27:45-46; Mrk. 15:33-41; Luk. 23:44-49; Yoh. 19:28-30), yang berarti sebelum malam, tepatnya sebelum jam 6 Sore atau sebelum Sabat berlangsung.

Hari Sabat di mulai jam 6 sore, dan berdasarkan budaya orang Yahudi pada jam 6 Sore mereka tidak boleh lagi beraktivitas apapun karena dianggap bekerja. Jangankan beraktivitas, berjalan pun pada hari Sabat tidak boleh melebihi 1,1 Km atau 3/4 Mil jauhnya. Bahkan seorang Ibu pun dalam menyalakan lilin atau pelita di rumahnya, tidak boleh jatuh atau lewat pada jam 6 petang, karena dianggap bekerja. Begitu ketatnya aturan Sabat itu.

Apalagi melakukan aktivitas penguburan, seperti yang dilakukan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus ini, tentu mereka menguburkannya sebelum jam 6 sore. Sebab jika pas atau lebih maka mereka dianggap melanggar hari Sabat. Apalagi keduanya adalah termasuk tokoh agama Yahudi, sudah pasti mereka menguburkan Tuhan Yesus sebelum jam 6 sore.

Bila waktu terhitung Yesus di kubur, maka perhitungannya kembali melesat. Tidak tepat 72 jam, malah lewat walau hanya beberapa menit. Perhitungan ini sudah pasti tidaklah pas.

Sebagaimana dijelaskan pada bagian ketiga, yakni menurut perhitungan waktu orang Yahudi, maka tidak bisa dielakkan lagi, Tuhan Yesus mati pada hari Jumat. Berikut penjelasan kronologisnya.

Kronologis penyaliban dimulai pada hari Kamis, dalam menyambut Paskah, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk mempersiapkan Perjamuan Paskah dan di malam hari mengadakan perjamuan tersebut (Mat 26:17-24).

Perjamuan Paskah itu terlaksana pada malam hari, di mana telah memasuki hari Paskah, hari Jumat. Setelah Perjamuan, Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani, kemudian Ia ditangkap (Mat 26:36-56). Lalu Tuhan Yesus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama.

Di sinilah penderitaan Yesus dimulai. Ia dihakimi, dianiaya, diolok-olok, dsbnya.

Pukul sembilan Yesus disalibkan (Mrk 15:25). Hari itu, masih pada hari Jumat, hari Paskah dan pada jam 12 setelah Tuhan Yesus tergantung di atas Kayu Salib, kegelapan pun terjadi hingga jam tiga Yesus mati diatas Kayu Salib. Kematian Yesus dari jam 3 Sore Jumat (hari Paskah) – 6 Sore Jumat (hari Sabat), Inilah hari pertama.

Baca juga: Mengasihi Tuhan Tanpa Syarat! Buktikan Iman Saudara…

Pada petang, sebelum memasuki hari Sabat, hari Sabtu, Yesus dikuburkan (Mrk 15:42). Hari Sabat dimulai pada jam 6 petang Jumat – jam 6 petang Sabtu, inilah hari kedua. Pada hari Sabat, hari peristirahatan (Luk 23:56b), Yesus telah dikuburkan.

Pada hari ketiga Yesus sudah bangkit (Mat 28:1). Hal ini terhitung dari jam 6 Petang Sabtu (sesudah Sabat) – pagi hari Tuhan Yesus bangkit dari kematian, inilah hari ketiga.

Bila mengikuti perhitungan waktu Yahudi, maka jelaslah tidak ada persoalan di sini dan kita pun menemukan, benar Tuhan Yesus mati pada hari Jumat.

 

5. Fakta Tuhan Yesus Mati Pada Hari Jumat Berdasarkan Yohanes 19:31

Fakta Tuhan Yesus mati hari Jumat yang kelima ialah berdasarkan Yohanes 19:31, yang menjelaskan bahwa tanggal 15 Nisan jatuh pada Sabat Mingguan.

Menurut pendapat Tuhan Yesus mati hari Rabu, karena kematian Tuhan Yesus bertepatan dengan hari raya Roti Tak Beragi, yang juga disebut sebagai Sabat Tahunan. Hal ini memang tertulis dalam Imamat 23:6-8. Tetapi memang Alkitab tidak menyebut itu sebagai Sabat Tahunan. Alkitab menyebut sebagai hari tidak “melakukan pekerjaan berat”, pada hari pertama dan hari ketujuh.

Imamat 23:6-8:
“Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Baca juga: Hanya Ada Satu Pintu Keselamatan

Pada hari pertama dan ketujuh itu, disebut Sabat Tahunan, yang menurut mereka berdasarkan tradisi Yahudi. Namun tidak berdasarkan referensi Pentateukh atau kitab Taurat yang ditulis Musa, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, BIlangan, dan Ulangan.

Padahal ada juga peristiwa Sabat Tahunan yang jelas diperintahkan Tuhan, yang jatuh pada hari raya Yom KIppur atau hari raya Pendamaian.

Imamat 23:28-32:
Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu. Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu. Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.”

Tetapi ada juga Sabat tujuh tahun disebutkan dalam Imamat 25:3-4
“Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.”

Akan tetapi hari-hari raya lain tidak ada yang secara spesifik dan eksplisit disebut sebagai Sabat. Seandainya ada tradisi sebagian orang Yahudi menyebut hari-hari raya lain sebagai “Sabat”, hal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan Taurat yang menerapkan istilah Shabbat untuk hari ketujuh mingguan, hari raya Pendamaian, dan tahun ketujuh.

Namun ada kerancuan di sini menyebutkan bahwa Hari Raya Roti Tak Beragi adalah Sabat Tahunan. Mereka menggunakan dalam nats Yohanes 19:31.

Yohanes 19:31:
Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

 

Kata “Sabat itu adalah hari yang besar” dalam bahasa Yunani: ἦν γὰρ μεγάλη ἡ ἡμέρα ἐκείνου τοῦ σαββάτου (n gar megale he hemera ekeinou tou sabbatou)

Baca juga: Kronologis Kebangkitan Tuhan Yesus, Penting Disimak

Sebenarnya Hari Sabat yang dimaksud Yohanes adalah hari ketujuh dalam minggu itu, yang bertepatan dengan hari raya tanggal 15 Nisan. Yakni hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi (Hag ha-Matzot), atau sering juga disebut hari pertama Paskah.

Tidak ada referensi ayat lain untuk menyebut hari pertama Hag ha-Matzot sebagai Sabat, kecuali tentunya kalau jatuh pada hari ketujuh (hari Sabtu).

Karena hari Sabat (hari ketujuh) adalah hari yang kudus bagi bangsa Israel dan Hag ha-Matzot, khususnya hari pertama atau 15 Nisan, adalah hari raya utama bangsa Israel. Maka hari Sabat itu disebut hari yang besar (megale he hemera).

Jadi bukan karena kematian Tuhan jatuh pada Sabat Tahunan dan ada dua Sabat, tetapi Sabat Mingguan yang bertepatan pada hari raya Roti Tak Beragi tanggal 15 Nisan.

Samuele Bacchiocchi dalam bukunya berjudul The Time of the Crucifixion and the Resurrection, mengatakan bahwa “Note should be taken also of the fact that, according to examples given by Strack and Billerbeck, in later Rabbinic literature the seventh-day Sabbath is regarded as a “high day” if it fell on Nisan 15, since that was the first day of the Passover festival, or if it fell on Nisan 16, because on that day the omer or first sheaf of barley was offered according to Pharisaic tradition.”

Bila dikaitkan dengan Markus 15:42:
“Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat.

Kata “hari menjelang Sabat” dalam bahasa Yunani προσάββατον (Prosabbaton)  adalah istilah orang Yahudi yang berbahasa Yunani (Yahudi Helenis) adalah untuk menyebut hari keenam mingguan (hari Jumat). Istilah ini sudah digunakan pada buku Deuterokanonika, yakni Yudit 8:6 dan II Makabe 8:26.

Maka pandangan ada dua Sabat tidak berdasar.

Selain penjelasan di atas,  tentu Alkitab akan memberikan informasi bahwa ada dua Sabat yang berlangsung. Tetapi Alkitab rupanya tidak pernah menyebutkan hal itu. Tidak ditemukan dalam Injil selain Yohanes.

Maka argumen ada dua Sabat, tentu kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sabat Mingguan jatuh pada tanggal 15 Nisan, yakni Hari Raya Roti Tak Beragi, itu benar. Namun bukan dijadikan dua Sabat.

Jelaslah Tuhan Yesus mati pada hari Jumat, sebab alasan sabat tahunan dan sabat Mingguan atau ada dua Sabat kurang dapat dipertanggungjawabkan atau tidak ada data kuat yang mendukung selain hanya di dalam nats ini, yang sudah tentu tidak perlu ditafsirkan terjadinya dua Sabat.

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya

Komentar Anda:

error: