Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

12 PRINSIP PERNIKAHAN KRISTEN BERDASARKAN ALKITAB

Prinsip Pernikahan Kristen
Via img: Internet

Fokus Hidup“Bolehkah orang Kristen bercerai? Bagaimana pandangan Alkitab mengenai poligami dan pernikahan sesama jenis? Dan bagaimana mewujudkan pernikahan yang berkenan bagi Tuhan?  Temukan jawabannya dalam artikel yang berjudul, 12 Prinsip Pernikahan Kristen Menurut Alkitab ini.”

 

Topik pembahasan mengenai prinsip pernikahan Kristen berdasarkan Alkitab, tentunya sangat menarik dan penting untuk dipelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan berkeluarga atau berumah tangga bagi orang Kristen.

Dan tulisan ini, ditujukkan kepada mereka yang berencana menikah, maupun yang sudah menikah agar memahami nilai-nilai pernikahan Kristen dan menjaganya dalam keutuhan rumah tangganya, yang dibangun di atas dasar iman kepada Kristus.

Baca juga: Kasih kepada Keluarga Seiman dengan Agape

Pernikahan Kristen adalah pernikahan yang serius, bukanlah main-main atau bila tidak cocok mudah untuk berpisah. Banyak kasus pernikahan yang hanya sekadar janji di mulut saja untuk setia sampai mati, namun prakteknya bercerai dan menikah lagi, bahkan sudah hal biasa.

Padahal, dalam pernikahan Kristen ada prinsip-prinsip pernikahan sesuai Alkitab yang perlu kita terapkan dan perlu menjaga nilai-nilai dari pernikahan itu sendiri.

Seperti apa nilai-nilai atau prinsip pernikahan Kristen berdasarkan Alkitab? Berikut ada 12 pembahasan prinsip pernikahan Kristen yang harus dijaga, dihormati, dan dilestarikan dalam berumah tangga.

 

 

 

1. Pernikahan Kristen adalah Lembaga Tertua yang Dilegalkan Tuhan

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:26-28)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang pertama ialah kita perlu menghargai pernikahan kita di dalam Kristus, sebab pernikahan merupakan sebuah lembaga yang dilegalkan Tuhan.

Membahas lembaga pernikahan, tidak lepas dari kisah penciptaan Tuhan dalam Kitab Kejadian. Tuhan yang melegalkan pernikahan, merestuinya, dan memproklamirkannya melalui menciptakan Hawa dan menempatkan di sisi Adam sebagai penolongnya.

Pernikahan adalah lembaga tertua dan pertama di dunia, di mana dua individu menyatu dan hidup bersama dalam membangun keluarga yang seutuhnya untuk tujuan memuliakan Tuhan dan melahirkan benih atau keturunan ilahi.

Baca juga: Mencintai Walau Harus Terluka, Ini Bukti Kasih

Manusia sebenarnya sangat istimewa di hadapan Tuhan, sebab diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tidak hanya sampai di situ saja, keistimewaan lainnya, manusia diberikan mandat dan kuasa untuk mengelola bumi. Ini adalah kepercayaan yang besar dari Tuhan untuk manusia.

Tugas dan tanggung jawab ini, tentunya tidak bisa dipikul sendiri oleh Adam, karena itu Tuhan memberikan penolong sepadan kepadanya. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18).

Kedua pasangan pertama di bumi ini, kemudian dipersatukan dalam pernikahan kudus dan Tuhan memberkati mereka. Berkat Tuhan atas mereka juga adalah melahirkan benih-benih ilahi atau keturunan anak Allah dan mengelola bumi (Kej. 1: 28).

Sayangnya manusia pertama tidak bisa seutuhnya menaati perintah Tuhan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Akibatnya, keturunan manusia tidak lagi melahirkan benih ilahi atau anak-anak Allah, melainkan dalam keadaan berdosa dan hilang kemuliaan Allah.

Dosalah yang juga membuat manusia hingga detik ini, banyak yang tidak menghargai pernikahan yang telah dilegalkan Tuhan.

Dengan mengetahui bahwa pernikahan adalah lembaga yang dilegalkan Tuhan, maka sudah seharusnya kita sebagai orang Kristen, menghargai pernikahan itu sendiri dan melahirkan keturunan-keturunan yang takut akan Tuhan.

Akan tetapi, berbeda dengan PL dimana dianggap sesuatu yang cukup memalukan bila tidak mempunyai keturunan laki-laki. Di PB, zaman anugerah ini, orang percaya, tidak lagi mempersoalkan harus memiliki keturunan secara lahiriah atau tidak, melainkan haruslah melahirkan anak-anak rohani. Agar banyak orang menjadi anak Allah dan beroleh keselamatan.

Baca juga: Mengasihi Tuhan Tanpa Syarat! Buktikan Iman Saudara…

Dengan kata lain orang percaya haruslah menjadi saksi Kristus yang produktif, melalui kehidupannya dan membimbing banyak orang kepada Terang Kristus. Agar mereka memenuhi amanat agung dan melahirkan anak-anak rohani. Bila tidak memiliki anak, bisa juga mengadopsi anak dan mendidiknya sehingga menjadi anak Tuhan sejati.

Bagaimana cara agar para keluarga Kristen dapat menghargai pernikahannya? Di bagian-bagian berikut akan membahas dengan jelas dalam menghargai pernikahannya.

 

 

 

2. Pernikahan Kristen adalah Dua Orang Dewasa yang Berlawanan Jenis

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej. 2:18-24)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang kedua ialah orang yang menikah terdiri dari dua orang dewasa yang berlawanan jenis, yakni pria dan wanita.

Sejak semula Tuhan sudah menetapkan pernikahan itu terdiri dari pria (Adam) dan wanita (Hawa). Dapat dimengerti mengapa Tuhan menciptakan wanita sebagai penolong. Sebab hubungan pernikahan yang sah dan legal di hadapan Tuhan itu adalah pria dan wanita, bukan pria dan pria atau wanita dengan wanita.

Hal ini juga disebutkan dalam Matius 19:5, “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Jelaslah pernikahan Kristen itu terdiri dari pria dan wanita atau berlawanan jenis.

Baca juga: 7 FAKTA SEPUTAR LGBT YANG PERLU ANDA KETAHUI

Usia seseorang yang bisa menikah menurut Alkitab, tentunya adalah usia yang cukup dewasa, di mana keduanya bisa hidup mandiri. Dan hanya orang yang dewasa dan mandiri yang bisa terpisah dengan keluarga dan membangun rumah tangga sendiri. Jadi, bukan usia anak-anak yang belum dewasa secara fisik dan pemikiran.

Bila pernikahan sesama jenis didukung oleh orang Kristen maupun diberkati oleh hamba Tuhan, jelaslah mereka tidak menghargai pernikahan sebagai lembaga yang dilegalkan Tuhan. Dengan kata lain, jika kita menghargai pernikahan, maka menikahlah sesuai dengan apa kata Alkitab, yakni dengan berlawanan jenis di usia yang seharusnya boleh menikah.

Namun adalah lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan sesama jenis, sebab ini menodai dan mengabaikan kehendak Tuhan.

 

 

 

3. Pernikahan Kristen adalah Harus Dengan Pasangan yang Seiman

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (2 Korintus 6:14-15)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang ketiga ialah orang yang menikah seharusnya memilih pasangan yang seiman, agar dapat membangun keluarga yang berkenan di hadapan Tuhan.

Ada ungkapan yang berkata, “jodoh di tangan Tuhan”. Artinya Tuhan sudah menentukan dengan siapa ia menikah. Benarkah? Jika benar demikian, maka seharusnya ayat ini tidak dituliskan oleh Paulus. Namun ternyata ayat ini jelas-jelas ada.

Tentu, ayat ini hendak memberitahukan kepada kita bahwa jodoh itu di tangan seseorang. Artinya, orang tersebut bisa memilih menikah dengan seiman atau tidak, dan anjuran Paulus adalah dengan pasangan yang seiman.

Kitalah yang menentukan dengan siapa kita menikah, selanjutnya Tuhan yang mempersatukan dalam pemberkatan nikah atau masuk dalam ikatan pernikahan kudus. Jodoh adalah pilihan kita!

Selain nats ini, ada banyak ayat yang menjelaskan bahwa jodoh adalah pilihan seseorang, bukan Tuhan, kecuali dengan melibatkan Tuhan. Memang Tuhan dapat mempertemukan dengan jodoh yang terbaik sesuai dengan kriteria-Nya, tetapi kitalah yang memilih apakah menikah dengannya atau tidak (Kor. 7:36-37).

Lebih jauh mengenai jodoh adalah pilihan disebutkan dalam Matius 19:2. “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Selain itu, bila jodoh ditentukan Tuhan, mengapa ada perceraian sedangkan Alkitab berkata apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia? Tuhan tidak menghendaki perceraian, tetapi perceraian terjadi, karena memang jodoh itu pilihan kita.

Baca juga: Menikmati Hidup Bersama Tuhan Setiap Waktu

Terkait membuat pilihan, Alkitab jelas memberikan kriteria bahwa harus dengan pasangan seiman. Tentu, arti seiman tidak hanya sekadar sesama Kristen, tetapi dilihat juga kehidupan rohaninya, kedewasaan iman, atau sejauh mana ia hidup takut akan Tuhan.

Ini penting! Sebab bila tidak demikian, maka keluarga tersebut akan sulit membangun bahtera rumah tangga yang berkenan di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih jodoh. Lebih baik terlambat atau tidak sama sekali, daripada menikah dengan yang tidak seiman.

Memang seseorang memilih menikah secepatnya tanpa melihat kerohanian calon pasangannya, bisa juga karena faktor usia atau desakan keluarga. Tetapi, untuk apa menikah bila pasangan Anda di kemudian hari menjauhkan Anda dari Tuhan.

Ada banyak fakta bahwa menikah dengan pasangan yang tidak seiman, justru membawanya juga semakin jauh dari Tuhan. Karena itu, gumuli hal ini dengan serius dan libatkan Tuhan.

Janganlah Anda menikah karena faktor usia, ketampanan, uang, atau desakan keluarga, sebab semuanya itu tidak menjamin keselamatan jiwa Anda. Milikilah prinsip, “lebih baik tidak menikah sama sekali, daripada menikah namun menjadi jauh dari Tuhan!”

 

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

error: