Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

12 PRINSIP PERNIKAHAN KRISTEN BERDASARKAN ALKITAB

4. Pernikahan Kristen adalah Diberkati di Hadapan Tuhan

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mati­us 19:5-6)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang dijelaskan dalam bagian ini adalah pernikahan yang sah menurut iman Kristen, yakni haruslah diberkati di hadapan Tuhan.

Sejak semula Tuhan sudah terlibat dalam pernikahan. Sebab Ia yang menciptakan Hawa (perempuan) dari tulang rusuk Adam dan mempersatukan mereka dalam pernikahan.

Baca juga: Yesus yang Mengisi Kehampaan Hidup

Bahkan Ia juga terlibat dalam memberkati mereka. menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; …” (Kej. 1:26-28)

Itulah sebabnya, mengapa pernikahan Kristen harus diberkati oleh seorang hamba Tuhan baik di gereja maupun diluar gereja, di hadapan Tuhan yang disaksikan keluarga maupun jemaat.

Sebab pernikahan yang sah di hadapan Tuhan adalah pernikahan yang diberkati oleh hamba Tuhan di hadapan-Nya.

Kalimat dalam nats ini, “… Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah …” menunjuk kepada pernikahan yang sudah dipersatukan atau diberkati Tuhan. Kata “dipersatukan Allah”, tentu mengartikan pada pemberkatan nikah, di mana melalui hamba Tuhan, kedua orang tersebut menjadi satu daging dan telah dipersatukan Tuhan dalam pernikahan kudus.

Keberadaan kedua insan yang telah menjadi satu daging tersebut, tidak boleh diceraikan manusia. Dan pasangan yang baru ini wajib mewujudkan sasaran dan tujuan pernikahan menurut Alkitab

Sasaran yang seharusnya dalam pernikahan, sebenarnya adalah menghormati Tuhan yang merestui atau memberkati pernikahan mereka. Namun faktanya, banyak pernikahan Kristen yang diberkati di gereja ternyata tidak mencapai sasaran yang dikehendaki Tuhan. Sebab, banyak orang Kristen yang tidak menjaga nilai-nilai dan prinsip pernikahan itu sendiri.

Pernikahan yang sah menurut Kristen adalah pernikahan yang diberkati oleh seorang hamba Tuhan di hadapan Tuhan. Bila sebuah pernikahan tidak melalui prosedur pernikahan Kristen, maka pernikahannya tidak sah di hadapan Tuhan. Dan haruslah diteguhkan (diberkati) oleh hamba Tuhan di gereja setempat.

 

 

 

5. Pernikahan Kristen adalah Monogami Bukan Poligami

“Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, … Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.” (1 Timotius 3:2,12)

“… tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” (1 Korintus 7:2)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang djelaskan dalam bagian ini adalah pernikahan yang sah menurut iman Kristen bukanlah poligami, melainkan haruslah monogami.

Di zaman PL, ada begitu banyak tokoh yang memiliki istri lebih dari satu istri, di antaranya adalah Lamekh, Abraham, Yakub, raja Daud, dan Salomo. Melihat dari banyaknya tokoh Alkitab melakukan praktek ini, maka Tuhan mengizinkan berpoligami di masa itu.

Meski demikian, poligami bukanlah perintah-Nya atau berasal dari Allah. Juga, bukan tanpa konsekuensi bila beristri lebih dari satu. Faktanya, keturunan Abraham, Daud, Salomo, di kemudian hari pun berselisih antara satu dengan lainnya.

Bisa dibayangkan bila Abraham tidak menerima tawaran Sara untuk menikahi budaknya. Maka, tidak akan ada dua keturunan Abraham, yakni Ishak dan Ismail.

Pada awalnya, Tuhan memberkati pernikahan itu monogami sebagai pernikahan yang sah bukan poligami. Tuhan tidak menyediakan dua perempuan kepada Adam, melainkan satu wanita, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging,” (Kej. 2:24).

Poligami diizinkan Tuhan dalam Perjanjian Lama sebab oleh beberapa alasan. Termasuk alasan keturunan, di mana anak laki-laki dianggap istimewa dan sebagai penerus garis keturunan ayahnya. Bila istri Yakub hanya satu orang, tentu tidak akan ada 12 suku Israel.

Alasan berikutnya, karena perempuan di masa PL dianggap lebih rendah dari laki-laki, karena itu mereka membutuhkan perlindungan dan status sebagai orang yang bersuami. Alasan lainnya karena wilayah kekuasaan bagi seorang raja. Menikahi keturunan raja di negeri tetangga dapat menjalin kerjasama dan memperluas wilayah kekuasaan.

Baca juga: Pakaian Bekas yang Bernilai, Kisah Sang Legenda Basket

Tetapi pada dasarnya Tuhan tidak menghendaki pernikahan poligami, dan sikap Allah ini kembali ditegaskan dalam PB bahwa pernikahan Kristen itu ialah monogami. Tuhan Yesus kembali mengutip Kejadian 2:24 dalam Matius 19:5, Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Tuhan Yesus mengembalikan hakikat pernikahan pada rancangan semula, di mana pernikahan yang berkenan di hadapan Tuhan hanya ada satu suami dan satu istri.

Penebusan Kristus di atas kayu salib, juga memulihkan pernikahan sehingga kembali pada pernikahan yang sesuai dengan kehendak-Nya, yakni pernikahan pada rancangan semula sewaktu manusia di Taman Eden.

Memang tidak tertulis dengan jelas bahwa Alkitab menolak poligami, namun selain dijelaskan di atas bahwa sejak penciptaan pernikahan yang sah adalah monogami. Juga nats Alkitab di bagian pembahasan ini, jelas sekali menunjukkan Tuhan tidak kompromi dengan poligami.

Buktinya, standar seorang penilik jemaat dan diaken atau kita sebut pelayan Tuhan haruslah memiliki tidak lebih dari satu istri. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak lagi berkompromi dengan poligami di zaman PB.

 

 

 

6. Pernikahan Kristen adalah Dipisahkan Oleh Kematian

Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat! (Maleakhi 2:14-16)

 

Prinsip pernikahan Kristen yang dijelaskan dalam bagian ini adalah pernikahan di dalam Kristus, sejatinya dipisahkah oleh kematian atau tidak boleh bercerai.

Alkitab tegas berkata, apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia (Mat. 19:5-6; Mrk. 10: 6-9). Jelaslah Tuhan membenci perceraian sebab perceraian bukanlah berdasarkan kehendak-Nya.

Sejak di zaman PL, Tuhan sudah menegaskan bahwa Ia membenci perceraian, sebagaimana tertulis dalam nats di atas. Namun karena ketegaran hati bangsa Israel (Mat. 19:7-8), Tuhan pun mengizinkan perceraian melalui Musa dan hukum Taurat juga mengatur undang-undang perceraian.

Baca juga: Kasih Kepada Pasangan Hidup yang Seharusnya

Karena tegar tengkuknya manusia, sehingga Tuhan mengizinkan atau memaklumi perceraian yang sebetulnya dibenci-Nya. Akan tetapi, dalam PB Tuhan Yesus tegas menolak manusia untuk menerapkan praktek perceraian. Termasuk organisasi gereja apapun yang ada, seharusnya tidak menerapkan praktek ini.

Tuhan Yesus tegas mengatakan, “Apa yang dipersatukan manusia tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Jadi, jelaslah tidak boleh ada perceraian dalam kekristenan.

Meski demikian, manusia yang ada di bumi ini tidak luput dengan dosa dan dikuasai oleh keinginan hawa nafsu. Sehingga tidak menutup kemungkinan, ada orang-orang yang mengaku diri Kristen atau orang percaya, namun sesungguhnya mereka masih hidup di bawah kuasa dosa.

Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak menghargai pernikahan atau prinsip pernikahan Kristen menurut ALkitab.

Sebab Alkitab PB mengizinkan perceraian apabila karena perzinahan, di mana suami atau istrinya berzinah dan terus menerus berbuat zinah, serta tidak lagi mau hidup bersama. Juga apabila sang suami atau istri yang tidak takut akan Tuhan menggugat cerai dan pernikahannya tidak bisa lagi dipertahankan. Atau pasangan hidupnya kabur dan meninggalkan dia.

Akan tetapi gugatan perceraian sebaiknya jangan diajukan oleh pihak yang hidup takut akan Tuhan, kecuali ia digugat cerai. Juga, sebaiknya bercerai hanya pisah ranjang saja, jangan secara hukum, sebab akan ada banyak hal yang dikorbankan, termasuk anak dan hubungan keluarga dari kedua belah pihak.

Namun bila harus bercerai, dan selama mantan suami atau istrinya itu masih hidup. Ia tidak boleh menikah lagi!

Bila seseorang terlanjur menikah dengan pasangan yang tidak seiman, selama pasangannya itu tidak ingin bercerai dengannya, maka janganlah ia berpisah dengannya (1 Kor. 7:12-15).

 

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

error: