GENERASI PENYEMBAH: TIGA CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA DALAM ROH DAN KEBENARAN

 

Fokus Hidup – “Artikel ‘Generasi Penyembah: Tiga Cara Menjadi Penyembah Bapa dalam Roh Kebenaran ini adalah penjabaran dari artikel versi catatan khotbah yang telah lama dipublish dalam situs ini pada kategori atau label Catatan Khotbah yang berjudul, “3 Cara Menjadi Penyembah yang Benar“. Simak artikel ini, yang membimbing Saudara menjadi generasi penyembah yang benar.

 
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).”
Konteks nats ini, mengisahkan percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria ketika perempuan itu sedang mengambil atau menimba air. Samaria dahulunya adalah lbu kota kerajaan Israel Utara sejak raja Omri (1 Raj. 16:24), pada tahun 722 SM ditaklukkan oleh Asyur (2 Raj. 17:5), sehingga sejak saat itu terjadilah asimilasi atau kawin campur dengan non Yahudi. 
Penduduknya dicampur dengan bangsa-bangsa lain, hingga akhirnya agama pun dicampur (2 Raj. 17:24-41). 
Dalam Perjanjian Baru, Samaria adalah daerah di antara Galilea (Utara) dan Yudea (Selatan). Penduduknya dibenci oleh orang-orang Yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan. Pada dasarnya, terjadi pertentangan dan pemisahan antara Yahudi dan Samaria, dimana orang Yahudi tidak mau bergaul dengan Samaria. 
Orang Yahudi menganggap orang Samaria adalah bukan bagian dari mereka, tidak kudus dan najis, demikian sebaliknya. Itu sebabnya, perempuan Samaria merasa heran ketika Yesus meminta air kepadanya. 
Namun, inilah strategi penginjilan Yesus agar terjadi dialog antara Ia dengan perempuan itu. Dari pembicaraan mengenai air kehidupan sampailah kepada pembicaraan mengenai “menyembah dalam roh dan kebenaran.”
 
Dalam bagian ini, penulis hanya akan mengupas perkataan Yesus kepada perempuan Samaria itu mengenai “menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.” 
Yesus berkata bahwa “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” 
Suatu ukuran atau standarisasi yang disampaikan oleh Alkitab untuk menjadi penyembah yang benar adalah berarti menyembah “Bapa dalam roh dan kebenaran.” Yang menjadi pertanyaan, mengapa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran? 

Karena Allah itu Roh dan kebenaran itu sendiri, maka Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Oleh sebab itu, Allah menghendaki Gereja Tuhan atau orang percaya untuk menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Allah, haruslah menyembah dalam roh dan menyembah dalam kebenaran. 

(Baca juga: Teologi Paulus dalam Surat Titus)

 

Arti Menyembah Bapa Dalam Roh dan Kebenaran

Menyembah di dalam roh dan kebenaran adalah keharusan kita sebagai generasi penyembah. Apakah maksudnya menyembah Allah dalam Roh dan menyembah dalam kebenaran? Berikut penjelasan teologis mengenai menyembah dalam roh dan kebenaran.

– Menyembah dalam roh

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “menyembah” artinya menghormati dengan mengangkat sembah, memuja (sesuatu sebagai Tuhan atau dewa), mengaku dibawah perintah. 
Sedangkan, kata “menyembah” dalam bahasa Yunani yaitu proskunesousin (verb indicative future active 3rd person plural) dari kata proskuneo yang artinya worship: menyembah, full down: rebah, kneel: berlutut/bersujud, bow low: membungkuk serendahnya. 
Jadi, menyembah atau menjadi penyembah berarti memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya di hadapan yang kita sembah.
Selanjutnya, kata “roh” dalam bahasa Yunani pneumati dari kata pneuma artinya spirit, inner life: dalam hati nurani, self: diri sendiri, hati nurani. Roh yang dibicarakan di sini bukan mengarah kepada Roh Allah atau Roh Kudus melainkan roh manusia atau roh kita (LAI menuliskan kata “roh” dalam huruf kecil, menunjukkan yang dibicarakan adalah roh manusia bukan Roh Allah).
Jadi, menyembah dalam roh yaitu memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya dengan segenap hati (penyembahan yang spiritual) atau roh kita merendahkan diri serendahnya di hadapan yang kita sembah (Subjek yang kita sembah adalah Allah). 
Banyak orang mengekspresikan penyembahan mereka dengan cara bermazmur, berlutut sembari menangis dengan keras, dan berkata-kata dengan kata yang penuh dengan pujian. Terlepas dari ekspresi tersebut, menyembah dalam roh mengarah pada sikap hati yang sungguh-sungguh merendahkan diri serendahnya saat menyembah.

– Menyembah dalam kebenaran

Kata “kebenaran” dalam bahasa Yunani menggunakan kata aliteia artinya ketulusan, kesungguhan, kenyataan, motif yang benar atau kebenaran ilahi. Jadi, menyembah dalam kebenaran artinya memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya dengan ketulusan, kesungguhan, dan motivasi yang benar sesuai dengan Firman Tuhan.
Contoh menyembah dengan motivasi yang benar, yaitu bukan mengharapkan pujian, tidak dibuat-buat (hiperbola atau munafik), bukan karena dorongan emosi sesaat (ada yang menyembah karena sedang mengalami persoalan, jadi saat menyembah ekspresinya seperti sungguh-sungguh menyembah tetapi sebenarnya hanya luapan emosi sesaat), dan mengaplikasikan penyembahan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pelaku Firman Tuhan.
Jadi, menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran berarti sikap hati yang menyembah Bapa dengan segenap hati (sungguh-sungguh) dan cara hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Inilah maksud menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.
Menjadi orang Kristen, bukan berarti telah menjadi penyembah yang benar, melainkan mereka yang menyembah Tuhan dengan segenap hati dan mau hidup dalam kebenaran, yaitu hidup berkenan di hadapan Tuhan atau menjadi pelaku Firman Tuhan adalah penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. 
Tolok ukur seseorang yang dapat dikatakan sebagai penyembah yang benar terlihat dari sikap hidupnya, tidak cukup hanya dengan roh (spirit/semangat) tetapi harus sejalan dengan Firman Tuhan. 
 
Contohnya, ada yang memiliki semangat yang menyala-nyala tetapi tidak menjadi pelaku Firman Tuhan. Hidupnya kelihatan sangat rajin dan setia ke gereja, kalau doa begitu kushyuk tetapi ternyata masih suka menceritakan keburukan orang lain alias ngegosip (di gosok makin siip bahan ceritanya), suka membunuh karakter saudara seiman, bahkan tidak memiliki kasih yang nyata dalam perbuatan.
Namun ada juga yang menjadi pelaku Firman Tuhan tetapi tidak memiliki spirit. Jadi, kedua-duanya adalah saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Yang seharusnya kita Sebagai orang percaya adalah menjadi penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa penyembah Bapa adalah menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran berarti sikap hati yang menyembah Bapa dengan segenap hati (sungguh-sungguh) dan cara hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Penyembah yang benar, tidak diukur dari sejauh apakah karunia yang ia miliki, sehebat apakah kemampuannya melayani maupun menggunakan karunia bahasa Roh, melainkan sejauh manakah ia memiliki ideologi, iman, dan ibadah yang benar.

Oleh Sebab itu, marilah kita menjadi penyembah yang benar berdasarkan Alkitab, bukan ajaran, doktrin, buku, atau cara-cara yang digunakan oleh orang-orang tertentu. Yang membuat kita masuk pada kategori menjadi penyembah yang benar adalah Alkitab bukan manusia, organisani, golongan, maupun Gereja.

Segala sesuatu tersebut menjadi jembatan bagi kita untuk dapat menjadi penyembah yang benar, tetapi yang menentukan kita untuk menjadi penyembah adalah keputusan kita dan sikap hidup/prinsip kita yang mau belajar memiliki ideologi yang benar, iman yang benar, dan ibadah yang benar.

Yang perlu kita pahami, Menjadi penyembah yang benar bukan sesaat dan bukan disaat kita menyembah saja, melainkan proses selama kita hidup.

 

Generasi Penyembah

Kata “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran;” merupakan perkataan Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria, bahwa akan datang dan sudah tiba sekarang, akan muncul penyembah Bapa yang sejati yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Perkataan Tuhan Yesus ini mengartikan bahwa akan tiba dan sudah tiba waktunya akan muncul para penyembah Bapa yang sejati. Mereka adalah generasi baru penyembah sejati. Rupanya, dari sini kita dapat mengetahui bahwa di zaman tersebut hingga zaman-zaman sebelumnya, mereka para penyembah-penyembah, sangat jarang atau tidak ditemukan penyembah Bapa yang sejati.

Kemungkinan pemberlakuan hukum Taurat yang mengikat, membuat umat Tuhan (Bangsa Israel) dikungkung atau tidak leluasa tampil sebagai penyembah sejati. Aturan, adat, hukum, dan belum turunnya Roh Kudus ke dalam dunia, membuat mereka tidak menjadi penyembah yang benar. Malah terpecah! Bangsa Israel kiblatnya Yerusalem, Samaria di Gunung Gerizim.

Hendak ditegaskan di sini bahwa akan ada atau muncul generasi penyembah yang baru, yang bukan menyembah Tuhan dengan lidahnya saja dan tindakannya seolah meninggikan Tuhan atau melakukan kehendak Tuhan, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Generasi ini adalah generasi penyembah sejati yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Kapan mereka muncul?

Generasi penyembah yang benar ini, menunjuk kepada gereja Tuhan yang terbentuk pada awal mula pertama setelah kenaikan Tuhan Yesus dan terjadinya pencurahan Roh Kudus.

Sejak saat itu, orang Israel tidak perlu lagi menyembah Tuhan di Yerusalem dan orang Samaria di Gunung Gerizim (Yoh. 4:21), melainkan dapat datang langsung berseru kepada Kristus dan menyembah-Nya.

Melalui kematian Kristus sebagai penebus disertai dengan tanda pada peristiwa seputar kematiaan, yakni Tabir Bait Allah terbelah dua, merupakan simbol tidak ada lagi pemisahan antara Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Artinya kematian Kristus menebus dan melayakkan manusia untuk dapat menghampiri kekudusan Tuhan.

Semua suku bangsa dapat menghampirinya dan barangsiapa yang percaya diselamatkan. Bahkan menjadi generasi penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Keselamatan juga diperuntukkan kepada bangsa-bangsa.

Dengan kata lain, semua bangsa (termasuk kita) dapat menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Kitalah generasi penyembah Bapa yang sejati itu, yakni
yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Generasi penyembah pertama gagal menjadi penyembah sebab bukan Tuhan lagi yang menjadi tolok ukur, tetapi budaya, adat, aturan, dan hukum Taurat. Pembaharuan terjadi setelah kematian dan kebangkita-Nya. Generasi ini adalah generasi kemenangan sebab menjadi penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Namun pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi generasi penyembah Bapa yang sejati? Jikalau kita membaca Alkitab, maka paling tidak kita akan menemukan tiga cara agar kita menjadi penyembah yang benar, yaitu dengan memiliki ideologi yang benar, iman yang benar, dan ibadah yang benar. Berikut penjelasannya.

 

I. Generasi Penyembah: Milikilah Ideologi yang Benar (Hosea 6:6)

Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran (Hosea 6:6).

Dalam menjadi penyembah yang benar atau sebagaimana kita sebagai generasi penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, maka yang pertama perlu kita ketahui adalah memiliki
Pengertian Ideologi yang benar. Ideologi ini punya peranan penting juga, sehingga kita semakin diarahkan menjadi penyembah sejati.

 

Pengertian Ideologi

Secara etimologis, Ideologi berasal kata idea (Inggris) yang artinya pengertian, gagasan, ide. Kata “logi” yang berasal dari bahasa Yunani λογος, logos yang artinya ilmu atau pengetahuan. Istilah ideologi pertama kali dikemukakan oleh Destutt de Tracy yang berasal dari Perancis pada tahun 1796.

(Baca juga: Kedatangan Kristus)

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “ideologi” artinya sekumpulan konsep bersistem; cara berpikir seseorang atau suatu golongan manusia; paham, teori. Jika dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, ideologi artinya adicita, ajaran, aliran, fikrah, filsafat, haluan, mazhab, paham, pandangan, pemikiran.

Jadi, ideologi berarti pemahaman, pola pikir, atau suatu pandangan yang dianggap sebagai kebenaran dan dianut secara radikal oleh suatu golongan atau perseorangan.

Contoh, ada suatu ajaran yang memiliki ideologi yang radikal, diajarkan bahwa berjihad dengan membunuh orang kafir bahkan rela memberikan nyawanya sendiri (bom bunuh diri) akan mendapat pahala. Padahal, ideologi tersebut tidaklah benar, namun mereka menganggap bahwa itu adalah kebenaran yang mutlak.

Ideologi suatu golongan atau perseorangan dapat mempengaruhi sikap dan karakter, bahkan seluruh aspek kehidupannya, sehingga sesuai dengan paham atau ajaran yang dianut dan yang dipercayainya.

Berbeda dengan orang percaya, kita memang harus memiliki ideologi yang radikal tetapi bukanlah ideologi berdasarkan ajaran manusia atau filsafat, dan ajaran agamawi atau golongan (politik), melainkan memiliki ideologi yang benar yaitu ideologi yang dilandaskan dan berdasarkan Alkitab.

Konteks Nats

Kitab Hosea adalah Kitab Nabi-nabi Kecil dalam Perjanjian Lama. Hosea merupakan nabi yang unik. Mengapa? Bukan karena postur tubuh atau tulisannya, melainkan sikap hidupnya yang taat pada panggilan.

Sebab, Hosea adalah seorang nabi yang taat ketika disuruh Tuhan untuk menikah dengan perempuan sundal (Hosea 1:2). Terlepas dari apa tujuan Tuhan menyuruh Hosea untuk melakukan hal itu, namun Hosea dipakai Tuhan untuk menunjukkan kebobrokkan dan kebejatan Bangsa Israel di hadapan Tuhan melalui analogi (gambaran).

Dalam konteks nats ini, bangsa Israel mendapatkan penolakan dari Tuhan dikarenakan pertobatan pura-pura dan persundalan bangsa tersebut secara rohani.

Dalam Bahasa Ibrani, kata “Pengenalan akan Allah” menggunakan kata דַ֥עַת אֱלֹהִ֖ים dayath Elohiym. Kata dayath artinya knowledge: pengetahuan, discernment: kepandaian membedakan yang baik dan yang buruk, understanding: memahami, wisdom: kebijaksanaan, kearifan.

Jadi, Kata “pengenalan akan Allah” menurut Hosea, tentunya bukan hanya sekedar mengenal atau tahu akan Allah, melainkan lebih kepada mengenal sungguh-sungguh, serta mengikuti segala kehendak Tuhan atau mengaplikasikan iman (memiliki pengetahuan, kepandaian membedakan yang baik dan buruk, memahami dan memiliki kebijaksanaan atau kearifan).

Hal ini juga berlaku bagi orang Kristen. Sebagai orang percaya, kita harus mengenal dengan benar (sungguh-sungguh) siapa Allah yang kita sembah, bagaimana sifat dan karakter Allah, mengapa Allah mau mati bagi kita manusia berdosa, apa yang menjadi kehendak dan kesukaan-Nya, dan sebagainya.

Jadi, jika kita mengaku sudah mengenal dengan sungguh-sungguh, maka sudah seharusnya kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah yang dimaksudkan dengan definisi pengenalan akan Allah. Penulis membahasakan kata “pengenalan” ini dengan istilah “ideologi” (mengacu dari definisi ideologi di atas).

Maksudnya, kata “pengenalan” yang dimaksud Hosea lebih mengarah kepada “ideologi yang benar”. Tuhan menghendaki kita sebagai orang percaya, memiliki pengenalan atau ideologi yang benar akan Allah. Seseorang yang memiliki ideologi yang benar berdasarkan Alkitab, maka pastilah ia akan memiliki pengenalan yang benar akan Allah dan hidup memuliakan Tuhan setiap saat.

Sebaliknya seseorang yang tidak memiliki ideologi yang benar akan bersifat radikalisme, mementingkan diri sendiri atau ajarannya, bahkan merasa pemahamannya lebih baik atau lebih benar dari orang lain, suka menghakimi, dan tentunya berpotensi menyesatkan orang lain dengan berkedok sebagai hamba Tuhan atau anak Tuhan.

Bangsa Israel mengalami penolakan dari Tuhan, dikarenakan tidak memiliki ideologi yang benar, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hosea 4:6).

Bertolak dari nats ini, maka betapa pentingnya memiliki ideologi yang benar bagi orang Kristen, karena dengan demikian kehidupan kita akan terarah, terdewasakan, dan yang terutama adalah menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Cara Agar Memiliki Ideologi yang Benar

Agar kita dapat memiliki ideologi yang benar, Salomo menunjukkan cara bagi kita untuk dapat memperolehnya di dalam Amsal 2:1-5. Ayat ini menjelaskan cara memiliki ideologi yang benar, yaitu dengan meresponi Firman Tuhan, terus belajar Firman Tuhan dan menjadi pelaku, dan tetap setia dalam iman, maka kita akan memperoleh ideologi yang benar.

Seperti halnya Paulus, awalnya memiliki ideologi yang salah, dia menganggap orang Kristen mula-mula adalah sesat karena percaya Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, sementara sebagai ahli Taurat mereka masih menantikan kedatangan Mesias sehingga ia menjadi penganiaya jemaat.

Namun, pada akhirnya ia berjumpa dengan Tuhan Yesus pada waktu Ia menuju Tarsus untuk menganiaya Jemaat dan memperoleh ideologi yang benar.

Hingga ia pun mengatakan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil. 3:8).

Karena itu, marilah kita memiliki pengenalan akan Allah atau memiliki ideologi yang benar berlandaskan dan berdasarkan Alkitab, agar kita dapat dikategorikan atau masuk pada kategori sebagai “penyembah yang benar.” Menjadi penyembah yang benar, yang harus dimiliki oleh seseorang ialah memiliki ideologi yang benar.

Tanpa ideologi yang benar, seseorang akan memiliki pemahaman yang salah akan Alkitab, bahkan berpotensi menyesatkan orang lain. Sejauh mana Anda memiliki pengenalan atau ideologi yang benar akan kebenaran Alkitab? Perhatikanlah kerohanian Anda!

 

II. Generasi Penyembah: Milikilah Iman yang Benar (Mat 17:20)

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
 

Hal kedua menjadi penyembah yang benar atau sebagaimana kita menjadi generasi penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, maka selain ideologi yang benar, juga dibutuhkan hal yang kedua ini, yakni iman yang benar. Seperti apa iman yang benar itu? Berikut penjelasannya.

 

Dapatkah Iman Sebesar Biji Sesawi Memindahkan Gunung?

Kebanyakan orang Kristen suka menggemakan atau menggunakan ayat ini dan menganggap bahwa dengan mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, dapat memindahkan gunung atau dapat mengalami mujizat atau pertolongan yang besar dari Tuhan.

Benarkah demikian? Apakah dengan iman hanya sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung? Atau, mungkinkah seseorang yang baru percaya Yesus atau baru mengalami pertobatan (petobat baru) dengan imannya yang kecil seperti biji sesawi dapat memindahkan gunung?

Dalam hal ini, penulis beranggapan tidak mungkin. Sebab, tidaklah mungkin seorang petobat baru maupun yang telah menjadi Kristen sejak lahirnya, namun hanya memiliki iman sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung. Mungkin saja seseorang dapat berkata bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Hal itu benar!

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, tetapi bagi orang tersebut, yang hanya memiliki iman sebesar biji sesawi, tentu adalah mustahil. Mungkinkah iman sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung?

Penulis tidak meragukan kebenaran Alkitab, tetapi tidak logis jikalau iman hanya sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung. Itu sebabnya, marilah kita menyelidiki kebenaran dan pengertian sebenarnya dari nats ini.

Konteks dekat dari ayat ini, yaitu pada lima ayat sebelumnya, mengisahkan tentang seseorang yang datang kepada Yesus untuk meminta agar Yesus menyembuhkan anaknya dari sakit ayan karena kerasukan setan.

Orang tersebut sudah membawa anaknya kepada murid-murid-Nya, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya. Mengapa demikian? Padahal murid-murid tersebut sudah lama hidup bergaul dengan Yesus, siang dan malam bersama Yesus, bahkan sering melihat mujizat yang Yesus lakukan, tetapi mengapa mereka tidak mampu menyembuhkan anak tersebut dengan kuasa Tuhan?

Apa persoalannya? Bukankah kalau hanya iman sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung, maka murid-murid-Nya seharusnya dapat menyembuhkan anak itu. Tetapi, malah sebaliknya! Padahal, dibandingkan dengan memindahkan gunung, anak tersebut hanya sakit ayan, namun faktanya murid-murid-Nya tidak dapat menyembuhkannya.

Masakan hanya iman sebesar biji sesawi saja tidak dimiliki oleh para murid-murid-Nya? Bahkan, Tuhan Yesus menghardik mereka (termasuk murid-murid-Nya) dengan sebutan “angkatan yang tidak percaya” (Mat. 17:17). (Baca juga: Natal Menuntun Kita Kepada-Nya)

Setelah keadaan sepi murid-murid pun bertanya kepada Yesus mengenai mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu. Yesus menjawab murid-murid-Nya, “karena kamu kurang percaya …” Di sini, terlihat perbedaan yang jelas dari perkataan Tuhan Yesus. Sebelumnya, Ia katakan angkatan yang tidak percaya, tetapi selanjutnya Ia katakan kurang percaya.

Sebenarnya, dalam nats ini dapat dipahami bahwa kata “tidak” dan “kurang percaya” adalah mengandung pengertian yang sama, yaitu kurang percaya juga dikategorikan sebagai tidak percaya. Kata “kurang percaya” dalam bahasa Yunani, oligopistian artinya littleness of faith, yaitu “iman yang benar-benar kecil”.

Hal ini, berarti para murid tetap memiliki iman walau sebesar biji sesawi saja (iman mereka benar-benar kecil). Tetapi, mengapa mereka tidak bisa menyembuhkan anak tersebut? Bukankah mereka tetap mempunyai iman sebesar biji sesawi? Jadi, iman yang benar-benar kecil (sebesar biji sesawi saja) termasuk tidak memiliki iman.

Biji sesawi adalah sangat kecil bentuknya. Sesawi di Indonesia tumbuhnya tidak terlalu besar, sedangkan di Timur Tengah dapat tumbuh besar. Dan juga sesawi di Indonesia dan Timur Tengah itu sangat berbeda bentuk dan rupanya.

Maksud Iman Biji Sesawi

Dalam terjemahan Alkitab KJV Kata “iman sebesar biji sesawi saja,” yaitu If ye have faith as a grain of mustard seed artinya “sekiranya kamu memiliki iman seperti benih biji sesawi.” Terjemahan KJV ini sangat tepat dengan bahasa aslinya ean ekhete pistin os kokkon sinapeos, artinya “jikalau memiliki iman seperti benih biji sesawi.”

Maka, jelaslah bahwa dalam teks asli tidak memakai kalimat “sebesar biji sesawi saja” melainkan “seperti benih biji sesawi.” Kata “sebesar” dalam Kamus Bahasa Indonesia artinya “sama besar dengan,” sedangkan kata “seperti” artinya “serupa dengan, sebagai, semacam.” Jadi, Tuhan Yesus tidak berkata mempunyai “iman sebesar (sama besar) dengan biji sesawi,” melainkan “seperti atau serupa dengan benih biji sesawi.”

Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa Tuhan Yesus tidak berbicara tentang iman sebesar biji sesawi saja, melainkan iman seperti benih biji sesawi. Mengapa Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya jikalau memiliki iman seperti benih biji sesawi dapat memindahkan gunung? Karena Yesus pernah memberikan perumpaan hal kerajaan sorga seumpama biji sesawi (Matius 13:31-32).

Jadi, ketika Yesus berkata seperti benih biji sesawi, maka masih kental ingatan mereka tentang penjelasan Yesus mengenai biji sesawi pada Matius 13:32, “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Murid-murid sudah paham dan mengerti akan maksud Tuhan Yesus mengenai iman biji sesawi. Ia tidak perlu menjelaskan kepada mereka secara detail mengenai perkataan-Nya itu. Berbeda dengan kita! Karena beda konteks, budaya, dan bahasa, itu menjadi alasan mengapa kita harus terus belajar Alkitab, yakni agar kita tahu arti dan makna dari perkataan Alkitab. Dengan begitu kita pun akan memiliki pengenalan yang benar, bahkan iman yang benar pula.

Iman Seperti Apa Yang Dikehendaki Tuhan?

Perkataan Yesus di Matius 17:20, ada hubungannya dengan Matius 13:32. Yesus menghendaki agar para murid-murid-Nya bukan memiliki iman yang kecil saja (oligopistian), melainkan iman seperti benih biji sesawi, yaitu iman yang bertumbuh, iman yang besar, dan iman yang menjadi berkat atau berbuah. Tuhan menghendaki agar kita memiliki iman seperti benih biji sesawi.

Rupanya, benih biji sesawi adalah benih yang paling kecil di antara semua benih tetapi ketika benih itu jatuh ke tanah, benih itu pun akan cepat bertumbuh dan merambat sehingga tidak ada ruang yang kosong lagi di tanah itu. Artinya benih itu akan menumbuhi semua tanah yang kosong di sekitarnya, dan ia pun akan menjadi besar seperti pohon.

(Baca juga: Tetap Konsisten dalam Iman)

Demikian juga dengan iman benih biji sesawi, ketika kita membiarkan benih iman itu tumbuh, maka semakin lama semakin besar dan akhirnya berdampak bagi orang di sekitar kita, sebagaimana sesawi yang sudah tumbuh, ia menjadi pohon dan burung-burung di udara menghinggapinya. Itulah iman benih biji sesawi.

Inilah kebenaran yang dimaksudkan oleh Yesus, bahwa iman yang benar adalah iman benih biji sesawi yaitu “iman yang bertumbuh, iman yang besar, dan iman yang berbuah atau menjadi berkat.”

Iman kita dapat bertumbuh oleh Firman Allah, dan jika kita membiarkan iman kita bertumbuh dengan cara mendengar Firman Tuhan dan menjadi pelaku, setia pada perkara kecil, dan percaya kepada Tuhan dengan teguh, maka kita akan memiliki iman yang besar dan iman yang berbuah atau menjadi berkat bagi banyak orang melalui apapun yang kita miliki (talenta, karunia, materi, hikmat, dll).

Iman seperti inilah yang dikehendakai oleh Tuhan Yesus.

Agar Memiliki Iman yang Benar

Iman yang benar bukanlah iman sebesar biji sesawi saja yang dipahami oleh kebanyakan orang Kristen (iman yang kecil atau sedikit iman saja), melainkan iman seperti benih biji sesawi, yaitu iman yang terus bertumbuh oleh Firman Tuhan, iman yang menjadi besar karena mempercayai dengan sungguh-sungguh eksistensi dan kemahakuasaan Tuhan, dan iman yang berbuah atau menjadi berkat sebab banyak orang terberkati oleh pola hidupnya dan perbuatan kasih.

Iman kita seharusnya bertumbuh dan menjadi iman yang besar, sehingga kita tetap menjadi penyembah yang benar hingga kita dipanggil menghadap Bapa di Sorga. Bagaimana agar kita memiliki iman yang benar? Di bawah ini ada beberapa hal yang seharusnya kita terapkan agar iman kita bertumbuh seperti halnya benih sesawi bertumbuh ketika jatuh ke tanah:

1. Mendengarkan Pemberitaan Firman.
Kita harus mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan atau mendengarkan khotbah, baik di gereja atau di mana pun kita berada. Sebab Alkitab berkata, iman timbul dari pendengaran (Rm. 10:17). Iman bertumbuh melalui pendengaran dan ketaatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, iman membutuhkan proses dan seharusnya memiliki ketaatan yang berkelanjutan.

2. Giat dalam Pengajaran Alkitab di Gereja Lokal
Kita juga harus semakin giat mengikuti pengajaran yang sehat yakni pengajaran Alkitab. Maka kita akan memiliki pengenalan yang benar kepada Tuhan. Seharusnya pengajaran Alkitab lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, bukan sebaliknya. Pengajaran Alkitab dapat kita peroleh melalui komsel atau belajar Alkitab praktis di gereja lokal.

3. Membangun Relasi dengan Tuhan
Yang tidak kalah pentingnya adalah kita bangun relasi dengan Tuhan melalui doa, saat teduh, dan ibadah doa di gereja. Kapan saja, di mana saja, datanglah kepada Tuhan melalui berseru dan berdoa kepada Tuhan.

4. Pegang Janji Tuhan
Kita harus selalu pegang janji Tuhan dan percaya bahwa Firman-Nya ya dan amin. Selain itu, jangan lupa perkatakan Firman Tuhan, sebab Firman Tuhan penuh kuasa untuk meneguhkan, menguatkan, membimbing, bahkan menolong hidup kita,

Jika kita memiliki iman yang benar maka kita akan dibimbing menjadi penyembah yang benar. Kitalah generasi penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Sebab mana mungkin kita menjadi penyembah yang benar, namun tidak memiliki ideologi dan iman yang benar? Tetapi, ada hal ketiga yang penting lainnya, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini.

 

III. Generasi Penyembah: Milikilah Ibadah yang Benar (Roma 12:1-2)

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Cara menjadi penyembah yang benar ialah memiliki ideologi atau pengenalan yang benar akan Tuhan, memiliki iman yang benar, dan yang ketiga ini ialah memiliki ibadah yang benar. Jika memiliki ideologi dan iman yang dianggap benar, tetapi kehidupannya tidak tercermin dalam gaya hidupnya sebagai wujud ibadah yang benar, maka pengenalannya itu, salah tentang Tuhan.

Memiliki ideologi dan iman yang benar tidaklah cukup, jika tidak dibarengi dengan ibadah yang benar. Berawal dari pengenalan sehingga menimbulkan iman. Semakin mengenal semakin memiliki iman yang teguh, tetapi juga terlihat dari perbuatan kesehariannya, yakni ibadah yang benar. Seperti apa ibadah yang benar itu?

Cara yang ketiga agar kita menjadi penyembah yang benar adalah memiliki ibadah yang benar. Ibadah yang benar terlahir dari ideologi dan iman yang benar. Ibadah yang benar bukan hanya sekedar kita setia beribadah bahkan hampir setiap hari beribadah, melainkan mempersembahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan dengan menjaga kekudusan dan hidup memuliakan Tuhan.

(Baca juga: Doa yang Benar)

Penulis sering melihat banyak orang Kristen, sikap mereka “sok kudus” dan kelihatan setia beribadah ke gereja bahkan setiap harinya, tetapi ternyata kehidupan mereka sehari-hari tidak mencerminkan ibadah yang benar yaitu suka mengucapkan kata kotor dan kutuk, berzinah, dan sebagainya.

Hal ini dikarenakan kebanyakan orang percaya tidak memahami seperti apakah ibadah yang benar itu. Definisi ibadah yang benar dapat dilihat dalam tulisan Paulus di dalam surat Roma 12:1.

 

Definisi Ibadah

Paulus mendefinisikan “ibadah yang benar” dengan istilah “ibadah yang sejati.”

 

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Dalam teks ini, Paulus mendorong dan menasihati jemaat di Roma agar memiliki ibadah yang sejati dengan cara mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.

Aplikasi mempersembahkan tubuh dapat dilihat pada perkataan Paulus selanjutnya, yaitu jangan menjadi serupa dengan dunia ini, memiliki pola pikir alkitabiah agar dapat membedakan hal yang baik, dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Ibadah Adalah Mempersembahkan Tubuh

Kata “mempersembahkan tubuhmu” dalam bahasa Yunani parastesai ta somata, artinya “menghadiahkan, memberikan tubuh.” Jadi, nasehat Paulus untuk mempersembahkan bukan mengandung unsur wajib, harus dan atau karena terpaksa.

Ya, karena kita orang Kristen jadi harus, wajib, atau terpaksalah mempersembahkan tubuh. Bukan seperti itu, melainkan adalah kita memberikan dengan rela sebagai hadiah atau menghadiahkan tubuh kita. Definisi kata “menghadiahkan” dalam Kamus Besar Indonesia, artinya “memberikan sesuatu sebagai hadiah, menganugerahkan”.

Jika kita memberikan hadiah kepada seseorang yang kita cintai, tentunya kita pasti akan memberikan hadiah yang bagus dan yang terbaik. Maka, yang dimaksud mempersembahkan tubuh adalah menghadiahkan tubuh kita kepada Tuhan. Definisi Ibadah yang benar adalah menghadiahkan (memberikan yang terbaik) tubuh kepada Allah.

Menghadiahkan berarti tidak mengandung unsur wajib, harus, atau terpaksa melainkan didasarkan karena kerelaan untuk memberikan tubuh kita bagi Tuhan. Hal penting yang perlu kita ketahui adalah jika kita mau mempersembahkan tubuh kita bukan berdasarkan kerelaan, tetapi oleh keterpaksaan, maka kita berada atau hidup dalam hukum Taurat bukan di dalam Injil.

 

Perbedaan Hukum Taurat dan Injil

Perbedaan antara hukum Taurat dan Injil sangatlah jelas. Hukum Taurat bukan hanya 10 Hukum yang kita kenal dalam Keluaran 20:1-17, itu hanya sebagian saja. Hukum Taurat seluruhnya berdasarkan Pentateukh atau lima Kitab Musa, yang dijabarkan para Rabbi dan menjadi aturan orang Israel adalah berjumlah 613 Mitzvot atau perintah.

Hukum Taurat dibagi dalam dua bagian yaitu perintah positif yang berjumlah 248 perintah “memerlukan” pelaksanaan suatu tindakan dan dianggap membawa pelakunya lebih dekat kepada Allah, dan perintah negatif berjumlah 365 perintah “melarang” tindakan tertentu dan pelanggarannya akan menciptakan jarak dari Allah (wikipedia.org/halakha). Totalnya adalah 613 Perintah Tuhan.

Hukum Taurat merupakan aturan-aturan atau norma-norma yang harus diperhatikan, dijaga dan diterapkan oleh bangsa Israel. Konsep keselamatan dalam hukum Taurat adalah keselamatan diperoleh atas usaha sendiri dalam melakukan segala perintah Allah (Gal. 3:12), sedangkan Injil, keselamatan diperoleh atas “anugerah atau pemberian secara cuma-cuma” melalui percaya kepada Kristus.

Jika umat Allah gagal menaati hukum Taurat, maka akan memperoleh kutuk hukum Taurat (Ul. 28:15-46). Namun, Alkitab menegaskan bahwa hukum Taurat telah digenapi oleh Kristus Yesus Tuhan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu Salib, sehingga manusia terlepas dari kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13).

Injil atau hukum Kasih mendekatkan manusia kepada Allah melalui Kristus, manusia rohnya dapat berhubungan dengan Tuhan, dan Roh Allah pun berdiam serta menyertai hidupnya, sehingga ia dimampukan oleh Roh Kudus untuk melakukan kehendak atau perintah Allah.

Jadi, hukum Taurat sebagai Perjanjian Lama telah digenapi dan diberikan Injil (Perjanjian Baru: perjanjian antara Allah dengan manusia di dalam Kristus), yaitu keselamatan hanya oleh anugerah melalui Kristus, bukan lagi hasil usaha seseorang karena menaati hukum Taurat.

Oleh sebab itu, seseorang yang telah meresponi anugerah keselamatan melalui iman dan menjadi pengikut Kristus, seharusnya mempersembahkan tubuhnya berdasarkan kerelaan, bukan karena keterpaksaan, atau dorongan motivasi tertentu untuk kepentingannya sendiri.

Jika seseorang mencari Tuhan karena terpaksa atau memiliki motivasi menyimpang, maka ia tidak akan mengalami pertumbuhan rohani. Hal yang mendasar untuk dilakukan oleh orang percaya dalam mempertahankan imannya dan agar mengalami pertumbuhan iman adalah mempersembahkan tubuhnya berdasarkan kerelaan atas dasar mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

 

Praktek Ibadah yang Benar

Kata “persembahan yang hidup,” Dalam bahasa asli thusian sōsan, artinya sacrifice to live, yaitu “menjadi korban yang hidup”. Alkitab terjemahan Lama juga menerjemahkan “menjadi korban yang hidup.” Kata “yang kudus,’ dalam terjemahan BIS, yaitu “yang khusus untuk Allah,” sedangkan, dalam bahasa Yunani, yaitu agian artinya kudus.

Selanjutnya, kata “yang berkenan kepada Allah” dalam terjemahan BIS yang sama juga dengan nats asli (bahasa Yunani) euareston to Theo, yaitu “yang menyenangkan hati-Nya.” Jadi, Paulus menasihati orang percaya untuk mempersembahkan (menghadiahkan) tubuh menjadi korban yang hidup, kudus, dan yang menyenangkan hati-Nya.

Makna korban yang hidup menurut penulis adalah seperti halnya seekor domba atau kambing yang dibawa ke tempat pengorbanan untuk disembelih tanpa memberontak. Maksudnya, kita bersedia melayani dan mengalami apapun yang Tuhan kehendaki (baik kesulitan, penderitaan, kedukaan, maupun kesusahan) tanpa mengerutu ataupun protes terhadap Tuhan.

(Baca juga: Menjadi Murid Sejati)

Ketaatan terhadap kehendak atau perintah Tuhan, merupakan bukti seorang pengikut Kristus menjadi korban yang hidup. Selain kita menjadi korban yang hidup (membiarkan kehendak Tuhan yang jadi dalam hidup kita), kita pun harus hidup di dalam kekudusan (kita tidak mencemarkan tubuh kita untuk perbuatan dosa atau keinginan daging), dan juga kita seharusnya hidup menyenangkan hati Tuhan.

Jika kita ingin menyenangkan orang tua atau orang yang kita kasihi, tentunya kita akan melakukan hal-hal yang dapat menyenangkan hatinya, demikian juga dengan menyenangkan hati Tuhan. Jadi, pengertian ibadah yang benar disini adalah kita dengan penuh kerelaan menghadiahkan tubuh kita menjadi korban yang hidup, hidup dalam kekudusan, dan selalu hidup menyenangkan hati Tuhan.

Bukti seseorang memiliki ibadah yang benar terlihat dari gaya hidupnya. Apapun yang ia kerjakan, baik dalam bisnis atau pekerjaan, studi, keluarga, pergaulan, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu merealisasikan cara hidup yang benar di hadapan Tuhan.

 

Ibadah adalah Gaya Hidup Penyembah Tuhan

Ibadah yang benar bukan menunjuk pada rutinitas fisik dalam beribadah kepada Tuhan, tetapi lebih kepada cara hidup yang benar di hadapan Tuhan. Orang Kristen haruslah memiliki cara hidup yang benar sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam Kolose 3:5-9.

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.”

Dan, kita seharusnya mengenakan manusia yang baru sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam Efesus 4:22-24.

“Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Jika kita memperhatikan kerohanian kita dalam ibadah yang benar, yaitu memiliki cara hidup yang benar dengan memberikan tubuh kita menjadi korban yang hidup, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan, maka kita termasuk generasi penyembah yang benar. Dengan kata lain, memiliki ibadah yang benar adalah pola hidup penyembah yang benar.

 

Cara menerapkan gaya hidup ibadah yang benar

Sebenarnya beribadah bukanlah pada hari Minggu saja dan seharusnya ibadah Minggu bukan sebagai rutinitas mingguan saja dalam beribadah, melainkan tempat kita belajar Alkitab, mengenal Tuhan melalui pemberitaan Firman, dan tempat kita dibekali oleh Firman Tuhan agar iman kita semakin diteguhkan.

Namun, Ibadah kita yang sejati atau yang sesungguhnya adalah di mana pun kita berada, kita menjunjung tinggi Firman Tuhan atau dengan penuh kerelaan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan dengan paksaan, terpaksa atau motivasi tertentu seperti karena hanya ingin diberkati. Ibadah yang benar dari seseorang terlihat melalui penjelasan berikut.

Pertama, menjadi korban yang hidup. Ibadah yang benar ialah mengadiahkan hidup atau tubuh kita menjadi korban yang hidup. seperti dijelaskan seperti seekor domba atau kambing yang di bawah dalam pembantaian tetapi tidak memberontak.

Jika kita mau menerima apa yang terjadi, termasuk bangkrut, sakit, atau berbagai persoalan lainnya tetapi kita tetap bersyukur, tidak mempersalahkan Tuhan, bahkan tetap bertekun dalam iman, maka kita menjadi korban yang hidup bagi-Nya. Tuhan memperhatikan orang-orang yang bersedia tinggal dalam kehendak Tuhan, meski apapun yang terjadi.

Makna menjadi korban yang hidup ialah, kita mau menerima segala sesuatu yang terjadi dan terus bersyukur, kita menyangkal diri dan memprioritaskan perkara-perkara sorgawi, kita tunduk dan taat kepada perintah Tuhan, meski harus kehilangan segala-galanya.

Kedua, kudus. Allah itu kudus, maka sebagai milik kepunyaan-Nya kita harus menjunjung tinggi kekudusan-Nya dengan cara, diantaranya kita hidup dalam kekudusan. Hal ini penting sebab merupakan pola ibadah yang benar menurut Alkitab. Jika seseorang terus hidup dalam kekudusan, atau setiap harinya menjauhi dosa dan bertobat, maka itulah ibadah yang benar.

Ketiga, Ibadah yang benar bukan hanya kita menghadiahkan hdiup kita bagi Tuhan melalui menjadi korban yang hidup dan hidup dalam kekudusan, melainkan juga kita hidup menyenangkan Tuhan melalui kehidupan kita sehari-hari, baik dalam hal berpikir, berkata-kata, maupun dalam hal kita bertindak. Kristus hidup di dalam kita.

Tuhan menanti kita untuk menerapkan ibadah yang benar di dalam hidup kita. Marilah kita mempraktekkan ibadah yang benar dalam berbagai hal dan seluruh aspek kehidupan kita. Jadilah penyembah yang benar yang memiliki gaya hidup ibadah yang benar.

Kesimpulan

Berdasarkan Yohanes 4:24, penyembah yang benar ialah menyembah Bapa di dalam roh (pneumati) dan kebenaran (aliteia), yang artinya menyembah Tuhan dengan kesungguhan hati dan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan, juga menjadi pelaku Firman Tuhan atau terus berusaha dan belajar melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Maksudnya roh atau hati kita selalu sungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan, bukan setengah hati dan kita juga hidup mau melakukan atau menjadi pelaku Firman Tuhan setiap hari dan terus berlanjut hingga Tuhan Yesus datang. Jadi bukan hal mudah menjadi penyembah yang benar, tetapi semua orang yang takut akan Tuhan seharusnya menjadi penyembah yang benar.

Kita dibentuk dan diproses melalui berbagai cara termasuk Tuhan izinkan persoalan hidup, sehingga kita terus menjadi penyembah Bapa atau penyembah yang benar. Tentu ada kiat atau ada cara yang jitu yang perlu kita lakukan sehingga kita menjadi penyembah yang benar.

Untuk menjadi penyembah yang benar, maka cara pertama yang seharusnya kita Lakukan adalah dengan memiliki ideologi atau pengenalan akan Allah dengan benar. Tanpa pengenalan yang benar mustahil kita dapat menjadi penyembah sejati.

Pengenalan atau ideologi yang benar dapat kita miliki melalui mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan dan terus belajar Alkitab secara teratur, rutin, dan penuh ketekunan, sehingga kita semakin mengenal dan memiliki pengetahuan yang lengkap dan benar akan Alkitab.

Cara kedua ialah memiliki iman yang benar. Berbicara tentang iman bukan sejauh mana kita mengerti akan iman, tetapi sejauh mana kita memiliki kualitas iman itu sendiri. Sia-sia jika kita hanya memiliki iman sekadar pengetahuan saja tetapi tanpa memiliki kualitas iman itu sendiri.

Kualitas iman atau iman yang benar adalah iman yang terus bertumbuh karena belajar Alkitab atau melalui ideologi yang benar, menjadi besar atau semakin teguh dan kuat, sehingga menjadi orang Kristen yang militan, dan terus berbuah di dalam Kristus, baik buah pelayanan maupun buah Roh. Jadi iman yang benar ialah iman yang bertumbuh, iman yang besar, dan iman yang berbuah.

Cara ketiga menjadi penyembah yang benar ialah memiliki ibadah yang benar. Ibadah yang benar ini, terlahir dari ideologi dan iman yang benar. Bila seseorang memiliki ideologi yang benar dan iman yang benar, maka akan terefleksi melalui ibadah yang benar. Dengan kata lain, Ibadah yang benar adalah dampak dari pengenalan dan iman yang benar.


Ibadah yang benar atau sejati itu terlihat dari gaya hidup seseorang. Jika seseorang hidup takut akan Tuhan maka tentu dibarengi dengan gaya hidup alkitabiah. Itulah ibadah yang benar. Bukan soal rutinitas beribadah tetapi soal pola atau gaya hidup. Dengan kata lain, ibadah itu bukan di hari Minggu saja, tetapi keseharian kita melalui hidup benar, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan.

Implikasinya, ibadah yang benar itu berarti kita menghadiahkan tubuh menjadi korban yang hidup, kudus, dan yang menyenangkan hati Allah. Pekerjaan, sekolah, keluarga, lingkungan, maupun pergaulan merupakan tempat kita memperlihatkan kualitas ibadah kita.

Karena itu, marilah kita datang pada Tuhan dengan rela menghadiahkan tubuh kita menjadi korban yang hidup, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan, di mana saja dan kapan saja.

Jadilah pribadi yang menyembah Tuhan dengan benar melalui belajar mengenal Tuhan, beriman teguh, dan bergaya hidup alkitabiah. Penyembah sejati adalah orang yang mau belajar mengenal Tuhan melalui pembelajaran Alkitab yang intensif, mau bertumbuh dan berbuah, dan hidup menyenangkan Tuhan melalui hidup kudus dan melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.

(Baca Juga: Sosok Penunggang Kuda Putih Wahyu-1911.html)
Pastikan bahwa kita adalah penyembah Tuhan yang benar, bukan hanya saat ini saja, melainkan sampai kita dipanggilnya berpulang ke rumah Bapa.

 

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel ini, bagikanlah ke sosmed (Facebook, Twitter, Gogle+, dll.) Anda. Jangan lupa, Like dan ikuti Fanspage Facebook yang ada di samping dalam versi desktop atau di bawah dalam versi Mobile Friendly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *