GENERASI PENYEMBAH: TIGA CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA DALAM ROH DAN KEBENARAN

 

Fokus Hidup“Artikel Generasi Penyembah: Tiga Cara Menjadi Penyembah Bapa dalam Roh Kebenaran ini adalah penjabaran dari artikel versi catatan khotbah yang telah lama dipublish dalam situs ini pada kategori Catatan Khotbah yang berjudul, Menjadi Penyembah yang Benar. Simak artikel ini, yang membimbing Saudara menjadi generasi penyembah yang benar.”

 
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).”

Konteks nats ini, mengisahkan percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria ketika perempuan itu sedang mengambil atau menimba air.

Samaria dahulunya adalah lbu kota kerajaan Israel Utara sejak raja Omri (1 Raj. 16:24), pada tahun 722 SM ditaklukkan oleh Asyur (2 Raj. 17:5), sehingga sejak saat itu terjadilah asimilasi atau kawin campur dengan non Yahudi.

Penduduknya dicampur dengan bangsa-bangsa lain, hingga akhirnya agama pun dicampur (2 Raj. 17:24-41).

Dalam Perjanjian Baru, Samaria adalah daerah di antara Galilea (Utara) dan Yudea (Selatan). Penduduknya dibenci oleh orang-orang Yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan. Pada dasarnya, terjadi pertentangan dan pemisahan antara Yahudi dan Samaria, dimana orang Yahudi tidak mau bergaul dengan Samaria.

Orang Yahudi menganggap orang Samaria adalah bukan bagian dari mereka, tidak kudus dan najis, demikian sebaliknya. Itu sebabnya, perempuan Samaria merasa heran ketika Yesus meminta air kepadanya.

Namun, inilah strategi penginjilan Yesus agar terjadi dialog antara Ia dengan perempuan itu. Dari pembicaraan mengenai air kehidupan sampailah kepada pembicaraan mengenai “menyembah dalam roh dan kebenaran.”

Dalam bagian ini, penulis hanya akan mengupas perkataan Yesus kepada perempuan Samaria itu mengenai “menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.”

Yesus berkata bahwa “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Suatu ukuran atau standarisasi yang disampaikan oleh Alkitab untuk menjadi penyembah yang benar adalah berarti menyembah “Bapa dalam roh dan kebenaran.” Yang menjadi pertanyaan, mengapa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran?

Karena Allah itu Roh dan kebenaran itu sendiri, maka Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Oleh sebab itu, Allah menghendaki Gereja Tuhan atau orang percaya untuk menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Allah, haruslah menyembah dalam roh dan menyembah dalam kebenaran.

(Baca juga: SURAT TITUS: PENTINGNYA MENGETAHUI TEOLOGI PAULUS DALAM SURAT TITUS)

 

Arti Menyembah Bapa Dalam Roh dan Kebenaran

Menyembah di dalam roh dan kebenaran adalah keharusan kita sebagai generasi penyembah. Apakah maksudnya menyembah Allah dalam Roh dan menyembah dalam kebenaran? Berikut penjelasan teologis mengenai menyembah dalam roh dan kebenaran.

 

– Menyembah dalam roh

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “menyembah” artinya menghormati dengan mengangkat sembah, memuja (sesuatu sebagai Tuhan atau dewa), mengaku dibawah perintah.

Sedangkan, kata “menyembah” dalam bahasa Yunani yaitu proskunesousin (verb indicative future active 3rd person plural) dari kata proskuneo yang artinya worship: menyembah, full down: rebah, kneel: berlutut/bersujud, bow low: membungkuk serendahnya.

Jadi, menyembah atau menjadi penyembah berarti memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya di hadapan yang kita sembah.

Selanjutnya, kata “roh” dalam bahasa Yunani pneumati dari kata pneuma artinya spirit, inner life: dalam hati nurani, self: diri sendiri, hati nurani. Roh yang dibicarakan di sini bukan mengarah kepada Roh Allah atau Roh Kudus melainkan roh manusia atau roh kita (LAI menuliskan kata “roh” dalam huruf kecil, menunjukkan yang dibicarakan adalah roh manusia bukan Roh Allah).

Jadi, menyembah dalam roh yaitu memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya dengan segenap hati (penyembahan yang spiritual) atau roh kita merendahkan diri serendahnya di hadapan yang kita sembah (Subjek yang kita sembah adalah Allah).

Banyak orang mengekspresikan penyembahan mereka dengan cara bermazmur, berlutut sembari menangis dengan keras, dan berkata-kata dengan kata yang penuh dengan pujian. Terlepas dari ekspresi tersebut, menyembah dalam roh mengarah pada sikap hati yang sungguh-sungguh merendahkan diri serendahnya saat menyembah.

– Menyembah dalam kebenaran

Kata “kebenaran” dalam bahasa Yunani menggunakan kata aliteia artinya ketulusan, kesungguhan, kenyataan, motif yang benar atau kebenaran ilahi. Jadi, menyembah dalam kebenaran artinya memiliki sikap yang merendahkan diri serendahnya dengan ketulusan, kesungguhan, dan motivasi yang benar sesuai dengan Firman Tuhan.

Contoh menyembah dengan motivasi yang benar, yaitu bukan mengharapkan pujian, tidak dibuat-buat (hiperbola atau munafik), bukan karena dorongan emosi sesaat (ada yang menyembah karena sedang mengalami persoalan, jadi saat menyembah ekspresinya seperti sungguh-sungguh menyembah tetapi sebenarnya hanya luapan emosi sesaat), dan mengaplikasikan penyembahan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pelaku Firman Tuhan.

Jadi, menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran berarti sikap hati yang menyembah Bapa dengan segenap hati (sungguh-sungguh) dan cara hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Inilah maksud menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Menjadi orang Kristen, bukan berarti telah menjadi penyembah yang benar, melainkan mereka yang menyembah Tuhan dengan segenap hati dan mau hidup dalam kebenaran, yaitu hidup berkenan di hadapan Tuhan atau menjadi pelaku Firman Tuhan adalah penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Tolok ukur seseorang yang dapat dikatakan sebagai penyembah yang benar terlihat dari sikap hidupnya, tidak cukup hanya dengan roh (spirit/semangat) tetapi harus sejalan dengan Firman Tuhan.

Contohnya, ada yang memiliki semangat yang menyala-nyala tetapi tidak menjadi pelaku Firman Tuhan. Hidupnya kelihatan sangat rajin dan setia ke gereja, kalau doa begitu kushyuk tetapi ternyata masih suka menceritakan keburukan orang lain alias ngegosip (di gosok makin siip bahan ceritanya), suka membunuh karakter saudara seiman, bahkan tidak memiliki kasih yang nyata dalam perbuatan.

Namun ada juga yang menjadi pelaku Firman Tuhan tetapi tidak memiliki spirit. Jadi, kedua-duanya adalah saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Yang seharusnya kita Sebagai orang percaya adalah menjadi penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa penyembah Bapa adalah menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran berarti sikap hati yang menyembah Bapa dengan segenap hati (sungguh-sungguh) dan cara hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Penyembah yang benar, tidak diukur dari sejauh apakah karunia yang ia miliki, sehebat apakah kemampuannya melayani maupun menggunakan karunia bahasa Roh, melainkan sejauh manakah ia memiliki ideologi, iman, dan ibadah yang benar.

Oleh Sebab itu, marilah kita menjadi penyembah yang benar berdasarkan Alkitab, bukan ajaran, doktrin, buku, atau cara-cara yang digunakan oleh orang-orang tertentu. Yang membuat kita masuk pada kategori menjadi penyembah yang benar adalah Alkitab bukan manusia, organisani, golongan, maupun Gereja.

Segala sesuatu tersebut menjadi jembatan bagi kita untuk dapat menjadi penyembah yang benar, tetapi yang menentukan kita untuk menjadi penyembah adalah keputusan kita dan sikap hidup/prinsip kita yang mau belajar memiliki ideologi yang benar, iman yang benar, dan ibadah yang benar.

Yang perlu kita pahami, Menjadi penyembah yang benar bukan sesaat dan bukan disaat kita menyembah saja, melainkan proses selama kita hidup.

 

Generasi Penyembah

Kata “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran;” merupakan perkataan Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria, bahwa akan datang dan sudah tiba sekarang, akan muncul penyembah Bapa yang sejati yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Perkataan Tuhan Yesus ini mengartikan bahwa akan tiba dan sudah tiba waktunya akan muncul para penyembah Bapa yang sejati. Mereka adalah generasi baru penyembah sejati. Rupanya, dari sini kita dapat mengetahui bahwa di zaman tersebut hingga zaman-zaman sebelumnya, mereka para penyembah-penyembah, sangat jarang atau tidak ditemukan penyembah Bapa yang sejati.

Kemungkinan pemberlakuan hukum Taurat yang mengikat, membuat umat Tuhan (Bangsa Israel) dikungkung atau tidak leluasa tampil sebagai penyembah sejati. Aturan, adat, hukum, dan belum turunnya Roh Kudus ke dalam dunia, membuat mereka tidak menjadi penyembah yang benar. Malah terpecah! Bangsa Israel kiblatnya Yerusalem, Samaria di Gunung Gerizim.

Hendak ditegaskan di sini bahwa akan ada atau muncul generasi penyembah yang baru, yang bukan menyembah Tuhan dengan lidahnya saja dan tindakannya seolah meninggikan Tuhan atau melakukan kehendak Tuhan, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Generasi ini adalah generasi penyembah sejati yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Kapan mereka muncul?

Generasi penyembah yang benar ini, menunjuk kepada gereja Tuhan yang terbentuk pada awal mula pertama setelah kenaikan Tuhan Yesus dan terjadinya pencurahan Roh Kudus.

Sejak saat itu, orang Israel tidak perlu lagi menyembah Tuhan di Yerusalem dan orang Samaria di Gunung Gerizim (Yoh. 4:21), melainkan dapat datang langsung berseru kepada Kristus dan menyembah-Nya.

Melalui kematian Kristus sebagai penebus disertai dengan tanda pada peristiwa seputar kematiaan, yakni Tabir Bait Allah terbelah dua, merupakan simbol tidak ada lagi pemisahan antara Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Artinya kematian Kristus menebus dan melayakkan manusia untuk dapat menghampiri kekudusan Tuhan.

Semua suku bangsa dapat menghampirinya dan barangsiapa yang percaya diselamatkan. Bahkan menjadi generasi penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Keselamatan juga diperuntukkan kepada bangsa-bangsa.

Dengan kata lain, semua bangsa (termasuk kita) dapat menjadi penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Kitalah generasi penyembah Bapa yang sejati itu, yakni
yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Generasi penyembah pertama gagal menjadi penyembah sebab bukan Tuhan lagi yang menjadi tolok ukur, tetapi budaya, adat, aturan, dan hukum Taurat. Pembaharuan terjadi setelah kematian dan kebangkita-Nya. Generasi ini adalah generasi kemenangan sebab menjadi penyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Namun pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi generasi penyembah Bapa yang sejati? Jikalau kita membaca Alkitab, maka paling tidak kita akan menemukan tiga cara agar kita menjadi penyembah yang benar, yaitu dengan memiliki ideologi yang benar, iman yang benar, dan ibadah yang benar. Berikut penjelasannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.