Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

7 MAKNA NATAL ATAU KELAHIRAN KRISTUS DI ALKITAB

 

3. Natal atau Makna Kelahiran Kristus adalah bukti penggenapan janji-Nya (Yes. 7:14)

Makna Natal atau Kelahiran Kristus yang sesungguhnya adalah sebagai bukti penggenapan janji-Nya yang telah dinubuatkan dalam PL.

Bangsa Yahudi sedang menantikan Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Dalam penantian mereka ini, ternyata bangsa ini tidak menyadari bahwa Tuhan Yesuslah Mesias yang dijanjikan sebagai pembebas bangsa Israel yang sejati.

Alasan kuat yang membuat orang Yahudi menolak Yesus adalah karena dalam benak mereka bahwa Mesias itu adalah superior yang bisa membebaskan mereka dari jajahan Romawi dan meneguhkan takhta-Nya di Yerusalem, serta memerintah secara fisik dengan agung di dunia yang fana ini.

Padahal kerajaan-Nya bukan di bumi ini, melainkan di “langit baru dan bumi baru”, yakni di Kerajaan Kekal yang tak tergoyahkan.

Baca juga: Bom Di Malam Natal, Kisah Sang Pahlawan Kemanusiaan

Kesalahan dalam memahami nubuatan dan firman Tuhan, mengaburkan kebenaran yang sesungguhnya. Dan yang terjadi, bangsa ini malah berbalik menyerang Tuhan Yesus dengan menyalibkan Dia.

Sosok Raja yang ada di benak mereka adalah sepantasnya lahir di istana atau tempat yang mewah, dan berasal dari keturunan Raja Daud, dari keluarga yang terhomat dan memiliki kedudukan penting di mata masyarakat Yahudi.

Namun rupanya Tuhan Yesus lahir di kandang domba yang hina dan hanya anak dari tukang kayu (Yoh. 6:41-42). Itulah sebabnya mereka menolak Tuhan Yesus, yang sebenarnya datang sebagai Juruselamat dunia.

Kita harus memahami bahwa Tuhan Yesus ada kaitannya dengan PL, yakni Dia-lah Sang Mesias yang dijanjikan sebagai pembebas umat-Nya dari belenggu dosa. Berita Natal dalam PL adalah untuk semua orang dari segala bangsa (Yes. 9:6-7; Luk. 2:10).

Para nabi sebelumnya telah berulang-ulang menubuatkan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini, dan yang akhirnya tergenapi pada peristiwa natal tersebut (Luk. 1:69-75).

Jadi natal ditujukan bukan hanya kepada orang Israel saja, sebagai umat pilihan Tuhan, tetapi kepada semua bangsa di bumi (Luk. 2:30-32).

Baca juga: 5 FAKTA YESUS BENAR-BENAR MATI DISALIBKAN DI ATAS KAYU SALIB

Natal harus kita maknai dengan lahir-Nya Yesus Sang Mesias, Raja di Atas Segala raja, Juruselamat dunia sebagai penggenapan janji Allah bagi manusia yang dikasihi-Nya.

Ini juga berarti janji Allah mengenai Mesias sudah digenapi, karena itu jangan lagi kita menantikan kelahiran-Nya seperti sebagian bangsa Yahudi yang saat ini masih menantikan-Nya.

Apalagi jika kita tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan beranggapan Ia hanya sebagai utusan saja. Sebab Dia-lah Tuhan yang turun dari sorga menjadi manusia, yang telah menggenapi janji-Nya.

Hal ini juga membuktikan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang selalu menggenapi janji-Nya. Tuhan bukanlah manusia sehingga Ia berdusta. Apa yang difirmankan-Nya pasti terjadi dan tergenapi.

Melalui peristiwa natal, kita diingatkan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang memegang janji-Nya dan yang tidak akan pernah berdusta kepada manusia. Karena itu, tetaplah  percaya pada firman, janji, dan kasih setia Allah yang tidak pernah berubah bagi kita.

 

 

 

4. Natal atau Makna Kelahiran Kristus adalah kabar Keselamatan (Luk. 2:10-12)

Makna natal atau Kelahiran Kristus yang sesungguhnya adalah mengenai kabar keselamatan yang sudah datang bagi dunia.

Natal dapat disebut kabar baik, kabar keselamatan, dan kabar sukacita. Peristiwa natal lebih dari 2000 tahun yang lalu, adalah kabar sukacita dan kabar keselamatan bagi manusia.

Malaikat mengatakan kepada para gembala di padang Betlehem bahwa ia membawa kabar kesukaan besar bagi dunia.

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud Dan inilah tandanya  bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk. 2:10-12).

Mengapa natal merupakan kabar kesukaan besar? Sebab seorang bayi telah lahir. Bayi yang lahir ini adalah Juruselamat dunia, yakni Tuhan Yesus Kristus, sebab manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh Sang Juruselamat yang baru lahir.

Kabar kesukaan besar ini berisi kabar keselamatan bagi dunia.

Itulah sebabnya para bala tentara sorga bersukacita dengan nyanyian atau puji-pujian mereka saat berita natal disampaikan kepada gembala-gembala (Luk. 2:13-14).

Orang-orang yang meresponi kabar keselamatan ini, tentu bersukacita memuji anugerah Tuhan yang besar ini.

Maria memuji-muji Tuhan karena ia sedang mengandung Juruselamat dunia. Demikian juga Zakharia, ia bersyukur kepada Tuhan, bukan hanya karena istrinya, Elisabet, yang akan melahirkan anak (Yohanes Pembaptis), tetapi juga karena Yesus sang Juruselamat dunia.

Hal yang sama dapat dilihat dalam nyanyian Simeon, yang menatang sang Juruselamat ketika masih bayi. Ia bersyukur karena telah melihat sang Juruselamat manusia (Lukas 2:28-30).

Baca juga: Pengharapan dalam Keselamatan bagi Orang Percaya

Bersukacitalah selalu, sebab peristiwa natal senantiasa mengingatkan akan kabar kesukaan besar berisi berita kabar keselamatan, di mana telah lahir Sang Juruselamat dunia. Bersyukurlah bila kita telah mengenal Dia dan beroleh keselamatan, sembari kabarkan berita keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita. Jadilah saksi hidup!

Perlu diketahui, kabar keselamatan atau rancangan keselamatan sudah dinubuatkan atau dijanjikan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Allah telah menjanjikan bahwa keturunan Hawa (Yesus) akan meremukkan kepala iblis (Kej. 3:15).

Natal atau kelahiran Kristus adalah kabar keselamatan bagi dunia, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17).

 

 

 

5. Natal atau Kelahiran Kristus adalah Jalan Mengalami Kelahiran Baru (Yoh. 3:19-21)

Makna natal atau kelahiran Kristus yang sesungguhnya ialah peristiwa natal merupakan jalan bagi setiap orang untuk mengalami “lahir baru” di dalam Kristus.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama mengenai makna Natal atau Kelahiran Kristus, bahwa oleh bukti cinta-Nya, sehingga Tuhan Yesus dengan penuh ketaatan, menjadi manusia dan melaksanakan kehendak Bapa, maka makna natal juga berarti Kristus menjadi teladan bagi kita untuk taat kepada Bapa (1 Petrus 2:21).

Memang menjadi orang Kristen tidak semudah yang kita bayangkan, tidak seperti ajaran yang sering kita dengar “hanya percaya saja maka diselamatkan”.

Bila pemahaman kita seperti itu, maka kita sebenarnya sedang mengabaikan makna Natal yang sesungguhnya. Sebab mengikut Tuhan tidak cukup hanya percaya, melainkan iman kita harus disertai dengan perbuatan atau pertobatan.

“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;

tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh. 3:19-21)

Yakobus mempertegas bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati,

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. 

Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan,  dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ 

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar,” Yak. 2:17-19).

Kapankah seseorang lahir baru di dalam Tuhan? Apakah dengan mengaku Tuhan Yesus sebagai Juruselamat maka ia sudah lahir baru?

Kelahiran baru seseorang di dalam Tuhan tentu harus disertai dengan perbuatan iman, yakni pertobatan sejati. Seseorang yang telah lahir baru, ia akan membuktikan dirinya sebagai murid Kristus melalui ketaatannya, dengan meninggalkan cara hidup yang lama dan mengenakan manusia baru.

Untuk mengalami kelahiran baru, maka kita harus mengalami kematian dahulu. Kematian di sini, maksudnya diri kita mati terhadap keinginan-keinginan duniawi, ambisi-ambisi untuk kepentingan diri sendiri, tidak terikat dengan dunia, dan melepaskan semua hak demi ketaatan kepada kehendak Tuhan.

Jadi, seseorang yang mengaku sudah lahir baru, tetapi ia tidak mematikan dirinya yang cenderung dikuasai keinginan dosa, maka sesungguhnya ia belum mengalami kelahiran baru.

Baca juga: Paradigma Alkitabiah; Awal dari Pembaharuan Iman

Pada zaman PL, pada masa hukum Taurat, seseorang akan sulit menundukkan dirinya kepada kehendak Tuhan dan hidup tanpa bercacat cela di hadapan Tuhan, karena memang hukum Taurat tidak cukup mampu membawa orang kepada kesucian hidup sesuai dengan standar Tuhan.

Namun melalui Kristus lahir ke dalam dunia dan melakukan kehendak Bapa dengan taat sampai mati, maka manusia berkesempatan dan beroleh anugerah mengalami lahir baru atau mengenakan manusia baru di dalam Kristus.

Peristiwa Natal adalah jalan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk mengalami lahir baru, dan melalui ketaatan Kristus kepada Bapa, kita akhirnya beroleh figur atau keteladanan nyata untuk taat sampai mati kepada kehendak Bapa. Tuhan Yesuslah sosok, figur, dan keteladanan kita.

Tanpa kelahiran Kristus tidak mungkin akan ada jalan untuk mengalami kelahiran baru di dalam Kristus. Karena itu, sangatlah tepat bila makna Natal adalah jalan untuk kita “lahir baru”.

Yang menjadi pertanyaan dan renungan bagi kita adalah sudahkah Kristus lahir di hati kita? Atau sudahkah kita mengalami lahir baru?

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

Shalom...
Mau curhat? Atau mau bertanya?
Powered by
error: