Bom Di Malam Natal

Fokus Hidup – “Sang Pahlawan kemanusiaan ini, rela mengorbankan nyawanya di malam Natal. Seperti apa kisahnya?  Simak renungan berjudul Bom di Malam Natal ini.”

 


Bacaan Nats: Matius 16:24-27; 2 Timotius 2:11-13
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal 
dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (ayat 24)

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa 
kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (ayat 25)

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat 
diberikannya sebagai ganti nyawanya? (ayat 26)

Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu 
itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. (ayat 27)
(Matius 16:24-27)

Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan 
dusta, (ayat 11)

supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (ayat 12)

Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi 
Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu 
dan dalam kebenaran yang kamu percayai. (ayat 13)
(2 Timotius 2:11-13)

 

Ungkapan “kehidupan dan kematian di tangan Tuhan” adalah benar, sebab kehidupan dan kematian seseorang tentu terjadi karena seizin Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup atau mati bila tidak diizinkan dan dikehendaki Tuhan (Ay 1:21).

Tentu ada kematian yang tidak dikehendaki oleh Tuhan namun diizinkanNya terjadi, misal bunuh diri. Pembunuhan terhadap diri sendiri ini merupakan bentuk tindakan yang durhaka, karena sebagai bentuk penolakan seseorang atau manusia atas karunia kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Baca juga: MENGALAMI TUNTUNAN TUHAN

Hidup ini berharga karena pemberian Tuhan dan kematian yang benar adalah membiarkan maut atau kematian itu terjadi dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan dengan cara bunuh diri.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh Riyanto. Pria kelahiran Kediri, 23 November 1975 ini adalah salah satu dari keempat anggota Barisan Anshor Serbaguna (Banser) Mojokerto, yang ditugaskan oleh GP Ansor Mojokerto untuk membantu polisi mengamankan perayaan malam Natal di gereja Eben Haezer Mojokerto, pada tanggal 24 Desember 2000 silam.

Semula ibadah di Malam Natal itu berlangsung dengan khusyuk, namun hanya berjalan sebentar saja.

Sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bingkisan yang tergeletak di depan pintu masuk gereja, tanpa ada pemiliknya.

Riyanto pun sigap, ia memberanikan diri membuka bingkisan itu dan membongkarnya di hadapan petugas pengamanan lainnya, termasuk di antaranya seorang polisi sektor setempat yang juga berjaga di malam itu.

Di dalam bingkisan itu tampak menjulur sepasang kabel yang tiba-tiba memunculkan percikan api, ternyata itu bom.

Riyanto langsung berteriak, “Tiaraaaapp!”

“Di tengah kepanikan jemaat, ia pun berlari menjauhi kerumunan jemaat sembari mencari cara agar bom itu tidak melukai dan merenggut nyawa orang lain.”

Mungkin tidak menemukan cara lain, Banser Riyanto kemudian memeluk bom tersebut dan sesaat meledaklah bom itu.Tubuh Riyanto terpental dan ditemukan sekitar 100 meter dari titik ledakan.

Tindakan Riyanto ini bukanlah tindakan bunuh diri melainkan sebuah tindakan heroik untuk keselamatan ratusan orang yang ada di gereja. Sebuah tindakan yang penuh pengorbanan, yakni mengorbankan nyawanya sendiri.

Ia layak disebut “sang pahlawan kemanusiaan” yang mati memeluk bom di malam Natal. Sebab ia telah menyelamatkan ratusan jemaat Eben Heazer yang sedang beribadah pada malam Natal.

Baca juga: Dampak Kebaikan Kecil

Namun saat ini, ada juga orang-orang yang menista perbuatan pahlawan kemanusiaan melalui perbuatan mereka yang berusaha merusak perdamaian agama dan kesatuan bangsa Indonesia.

Bagaimana dengan kita?

Kenanglah perbuatan heroik Riyanto dan milikilah keberanian yang sama untuk bersedia berkorban bagi bangsa dan sesama, terutama untuk Kerajaan Kristus. Tuhan menghendaki kita tetap berdiri teguh dan berkorban bagi Dia. Jadikan Natal ini sebagai momen pembaharuan iman Anda dan tetaplah berada di jalan-Nya.

 

DOA
Bapa sorgawi, ajarku berani berkorban untuk bangsa dan negara, terlebih untuk hormat kemuliaan namaMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

 


(Renungan ini adalah tulisan asli penulis dan sudah dimuat dalam Renungan Harian Manna Sorgawi, No. 227 Tahun XIX)

Jika Anda merasa diberkati melalui renungan berjudui “Bom Di Malam Natal” ini, bagikan juga ke sosial media (Facebook, Twitter, Google+, dll.) Anda, agar ada banyak orang yang juga dikuatkan. Like halaman Facebook yang ada di samping atau di bawah dalam tampilan mobile. Dan jangan lupa, tinggalkan komentar Anda di kolom komentar. 

Leave a Reply