Pasang IklanSaudara ingin memasang iklan? Klik di pasang iklan..

Mengampuni Adalah Obat Kebencian, Jangan Keras Hati…

Fokus HidupDapatkah seseorang mengampuni orang yang melakukan kesalahan berkali-kali kepadanya? Bagaimana caranya mengampuni” Simak renungan yang berjudul Mengampuni adalah Obat Kebencian, Jangan Keras Hati… ini, yang dapat menguatkan iman Anda.”

 

 

Bacaan ayat:  Matius 18:21-35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni 
saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (ayat 21)

Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh 
puluh kali tujuh kali. (ayat 22)

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan 
hamba-hambanya. (ayat 23)

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh 
ribu talenta. (ayat 24)

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual 
beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. (ayat 25)

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya 
dan menghapuskan hutangnya. (ayat 26-27)

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar 
kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! (ayat 28)

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
(ayat 29-30)

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan 
mereka. (ayat 31)

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu 
telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. (ayat 32)

Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh 
hutangnya. (ayat 33-34)

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak 
mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ayat 35)

 

Mengampuni orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, bukan berarti seseorang tidak dapat mengampuni. Hal ini dialami oleh Ernawati. Ia awalnya dikuasai kebencian, akar pahit, dan dendam, tetapi ketika menjadi percaya kepada Yesus, ia pun dapat mengampuni dengan sepenuh hati.

Awal kisah pahitnya, sejak kedua orang tua berpisah dan ibunya menikah dengan ayah tirinya, ia selalu mendapat perlakuan kejam dari ayah tirinya.

“Saya nggak pernah dianggap sebagai anak,” katanya.

Perlakuan kasar yang dialami Erna dan adiknya, berlangsung hingga beranjak dewasa. Ayah tirinya sering memukuli tanpa sebab yang jelas, sedangkan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa.

Baca juga: Hidup yang Berserah Kepada Tuhan, Ini Gambarannya…

Perlakuan yang tiada kunjung berakhir membuat Erna sangat membenci dan dendam. Goresan yang dalam ini, menimbulkan niat di hatinya untuk membunuh sang ayah tirinya tersebut.

“Aku pernah mau bunuh Bapak aku pake pisau gitu, tapi gagal. Nggak tahu kenapa. Ada suara ngelarang aku untuk membunuh gitu,” ungkapnya.

Walau rencana gagal, ia terus merencanakan untuk membunuh ayahnya. Karena terus gagal berusaha membunuh sang ayah, ia pun lelah dan merasa berat penderitaannya, sehingga berniat bunuh diri tetapi tidak bisa melakukannya.

Suatu hari, ia berdoa dengan hati yang hancur mempertanyakan kepada Tuhan mengapa penderitaan ini ditimpakan kepadanya, dan mengapa ia harus mendapatkan ayah tiri yang bersifat sangat kejam kepadanya.

Saat itu ia mendengar suara yang berkata, “Anakku, Aku mengasihimu. Kalau engkau percaya kepadaKu, percayalah akan mujizat yang terjadi.” Timbul pengharapan di hatinya, bahwa ayahnya itu akan bertobat.

Dan, ketika menghadiri persekutuan, Erna membuat keputusan tersulit, yaitu mau mengampuni dan mengasihi ayahnya, “Aku berjanji sama Tuhan. Tuhan aku mau mengampuni bapakku.” Ia tidak mengeraskan hatinya.

Setelah ia meminta ampun atas kesalahannya karena berniat membunuh ayahnya dan mengampuni ayahnya dengan segenap hati, Erna merasakan terlepas dari akar pahit, benci, dan dendam. Kini, ia tidak lagi mengingat segala perlakuan kejam sang ayah dan belajar mengasihinya. Mengampuni adalah obat kebencian baginya.

“Tuhan menghendaki kita sebagai orang percaya agar belajar mengampuni orang lain, baik saudara maupun musuh kita. Hanya dengan mengampunilah kita terbebas dari kebencian, sebab mengampuni adalah obat kebencian.”

Rasul Petrus pernah bertanya kepada Yesus, “berapa kali ia harus mengampuni saudara yang berbuat salah kepadanya?” Tuhan Yesus menjawab, tujuh puluh kali tujuh kali dalam mengampuni.

Baca juga: Melihat dengan Mata Rohani, Fokus Iman yang Benar

Maksud Tuhan Yesus adalah mengampuni itu tidak ada batasnya dan tentu harus disertai dengan kualitas mengampuni itu sendiri. Mengampuni, seharusnya tidak hanya di mulut saja, melainkan juga harus sepenuh hati (ay 35). Juga, mengampuni adalah obat kebencian.

Inilah kualitas mengampuni itu, yakni mengampuni tanpa batas, terhadap orang yang sama dengan berbagai perbuatan yang buruk baik sengaja ataupun tidak sengaja yang dilakukan oleh orang tersebut.

Tuhan Yesus sudah memperlihatkan dan memberikan teladan bagi kita, sejauh mana Pribadi-Nya memiliki kualitas mengampuni. Hal ini dapat kita lihat dari peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Meski orang-orang tersebut telah mengakibatkan berbagai penderitaan melalui penganiayaan mereka terhadap Yesus atau melalui proses penyaliban yang tentunya begitu sangat menyakitkan bagi Tuhan Yesus.

Sebab, bukan hanya tubuh-Nya yang tergores dalam akibat penganiayaan brutal dan ketidak berperikemanusiaan, hinaan, olokan, dan disertai penderitaan yang sangat. Bahkan Tuhan Yesus disejajarkan dengan penjahat.

Seolah-olah lebih pantas seorang penjahat daripada Yesus, dimana orang Yahudi lebih memilih seorang penjahat untuk dibebaskan, daripada Tuhan Yesus yang tidak pernah melakukan tindakan kejahatan, tanpa dosa, dan mengajarkan nilai-nilai kebenaran, dengan meminta agar Ia disalibkan.

Juga hati-Nya tergores sangat dalam dan perih, sebab Ia yang adalah Sang Pencipta namun manusia makhluk ciptaan-Nya ini menolak-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Yoh. 1:11, bahwa “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”

Akan tetapi, kasih Kristus yang besar ini, terbukti dimana Ia membiarkan diri-Nya sendiri menjadi tumbal dosa menggantikan manusia. Sebab, Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Gal. 3:13).

Dengan tindakan-Nya yang luar biasa bersedia menderita dan mati di atas kayu salib seperti seorang penjahat dan menanggung hukuman dosa manusia ini, manusia yang rusak dan penuh lumpur dosa, kini beroleh pengampunan sepenuhnya dan terbebas dari hukuman kekal bila seseorang menjadikan Kristus sebagai Penguasa Tunggal dalam hidupnya.

Bahkan, dahsyat dan herannya kasih Tuhan itu, terlihat ketika di atas kayu salib, tergantung antara bumi dan langit dengan tubuh yang hancur, Ia masih melepaskan pengampunan, “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ …,” (Luk. 23:34).

Belajarlah mengampuni, sebagaimana Tuhan Yesus telah mengampuni dan ingin memperbaharui kita menjadi manusia baru, sehingga kita semakin menjadi serupa dengan Kristus dan berkenan di hadapan Bapa.

Memang bukanlah perkara mudah untuk mengampuni, tetapi bukan tidak bisa mengampuni, sebab kita memiliki Roh Kudus yang akan memampukan kita untuk dapat mengampuni sepenuhmya.

Ketahuilah, seseorang dapat mengampuni “bukan karena mampu, melainkan maukah”. Jika kita mau mengampuni sepenuh hati, maka kita dapat mengampuni sepenuhnya, sebab Roh Kudus yang memampukan kita. Sebaliknya, bila seseorang berkeras hati, maka ia akan sulit dan sampai kapan pun tidak bisa mengampuni.

Ingatlah, mengampuni menyembuhkan kita dari kebencian, sebab mengampuni adalah obat kebencian, sehingga kita tidak bisa lagi memiliki akar pahit dan penuh kasih Kristus. Juga awal kita memasuki babak baru perjuangan iman untuk semakin serupa dengan Kristus dan menjadi berkenan di hadapan Bapa.

Oleh karena itu, mulailah belajar mengampuni, jangan keras hati!

 

DOA
Bapa, selama ini aku sulit mengampuni namun aku mau mengampuni sepenuh hati orang yang bersalah dan berbuat jahat terhadapku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

(Dilarang meng-copy dan publish ulang tulisan ini, tanpa seijin penulis)

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel “Mengampuni Adalah Obat Kebencian, Jangan Keras Hati…” ini, bagikanlah ke sosmed (Facebook, Twitter, Gogle+, dll.) Anda. Jangan lupa, Like (Sukai) Fanspage Facebook Fokus Hidup yang ada di situs ini atau klik DI SINI untuk mendapatkan info-info terbaru dari fokushidup.com.

Mari bergabung juga dengan grup Facebook Fokus Hidup dengan cara klik DI SINI. Silahkan tinggalkan komentar Anda, bila ingin menanggapi, bertanya, ataupun memberikan saran dan kritik.

 

Lihat juga:

 

Komentar Anda:

error: