Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

7 PASUTRI DALAM ALKITAB; PEMBELAJARAN MEMBANGUN KELUARGA

3. Pasutri dalam Alkitab, Boas dan Rut: Menghargai Pasangan Hidup (Rut 34:14-17)

Ada ungkapan yang sering kita dengar, yakni “cinta itu buta”, benarkah? Atas nama cinta, banyak orang tidak lagi memakai logika. Belum cukup umur sudah melakukan hubungan suami istri yang katanya karena saling cinta.

Padahal cinta yang dimiliki bukan cinta yang tulus melainkan nafsu belaka, sehingga tanpa disadari merusak masa depan dan tentu itu merupakan perbuatan dosa yang tidak berkenan bagi Tuhan. Ada lagi yang karena “cinta buta” berhubungan bahkan menikahi suami atau istri orang, malah merusak rumah tangga orang lain.

Cinta buta dan cinta sejati itu beda tipis, dan kita harus bisa membedakannya. Maka, kita perlu tuntunan Firman Tuhan agar kita tidak dikuasai oleh cinta buta, melainkan oleh cinta yang tulus.

Cinta Rut kepada Boas, itu cinta yang tulus, begitu juga dengan cintanya Boas kepada Rut. Terbukti Rut menghormati Boas sebagai orang yang bisa menebusnya dan Boas menghargai Rut, menerimanya apa adanya, dan bersedia menikahinya.

Pertemuan Boas dan Rut bukan ditempat yang istimewa, melainkan di ladang. Sewaktu Rut memungut jelai di ladangnya, Boas memerhatikannya dan memberikan perlakuan yang baik kepadanya (Rut 2:4-9).

Rupanya perhatian Boas kepada Rut bukan sekadar iba atau karena ada ikatan saudara dengan Elimelekh mertua Rut, ternyata ia menghargai Rut karena kebaikan hatinya terhadap mendiang ayah mertua dan suaminya, terhadap Naomi ibu mertuanya, bahkan rela meninggalkan tanah air demi kepercayaannya terhadap Tuhan Israel (Rut 2:10-12).

Tentu di pandangan Boas, Rut adalah wanita yang baik, setia, dan takut akan Tuhan, sehingga ia bersedia menebus dan menikahi Rut, ketika Rut memintanya (Rut 3:1-18).

Baca juga: 7 FAKTA TUHAN YESUS MATI PADA HARI JUMAT

Dalam tradisi Yahudi menurut hukum Taurat, sudah menjadi kewajiban apabila seseorang menikahi istri saudaranya yang sudah meninggal dan anak sulungnya harus dianggap sebagai anak saudaranya yang meninggal itu (Ul 25:5-10).

Boas bersedia memenuhi kewajibannya itu, tetapi ia bukanlah satu-satunya orang yang bisa menebus Rut, ada juga beberapa sanak keluarga lainnya. Faktanya, tidak ada satu pun yang mau menebus Rut, hanyalah Boas.

Entah apa yang menjadi alasan sanak saudara Boas tidak mau menebusnya, mungkin karena latar belakang Rut yang bukan orang Israel atau seorang janda, yang pasti Boas melihat sisi positifnya Rut, wanita yang inner beauty.

Boas menghargai Rut dan membangun keluarga yang berkenan di hadapan Tuhan. Alhasil, keluarganya atau pasutri dalam Alkitab ini diberkati Tuhan, anaknya adalah kakeknya Raja Daud dan masuk dalam silsilah Mesias.

Cinta Boas dan Rut adalah cinta yang tulus dan dibangun atas dasar takut akan Tuhan, bukan cinta buta. Gunakan akal budi kita ketika mencintai seseorang, jangan dibodohi oleh pandangan mata dan harta, tetapi lihatlah kepribadiannya dan berdoalah bila ia yang terbaik. Selain itu, belajarlah menghargainya dan jadilah pendamping terbaik.

Menghargai pasangan hidup berarti menerima apa adanya, mendukung, dan menjadi pendamping terbaik baginya.

4. Pasutri dalam Alkitab, Ahab dan Izebel: Akibat Istri Lebih Mendominasi (1 Raj. 16:31-33; Ef. 5:22-28)

Biasanya suami yang takut istri bila sang istri memiliki harta yang banyak atau lebih kaya, garang, keras kepala, atau sering menggunakan kekerasan fisik terhadap suaminya.

Tentu Alkitab tidak membenarkan hal ini. Sebab istri seharusnya tunduk kepada suami sebagai kepala keluarga, bukan mendominasi atau menguasai sehingga sang suami harus tunduk kepadanya. Begitu juga suami, haruslah mengasihi istrinya dan tidak berlaku kasar. Jika hal ini dilakukan, maka keluarga akan harmonis.

Seorang istri yang lebih mendominasi dalam Alkitab Perjanjian Lama, ialah Ratu Izebel, ratu yang dikenal begitu kejam. Izebel adalah anak Etbaal, raja orang Sidon. Ahab, raja Israel menikahinya dan karenanya, Ahab menjadi penyembah Baal (1 Raj 16:31).

Atas pengaruh kepercayaan Izebel, Ahab juga membangun kuil Baal di Samaria dan Patung Asyera, sehingga menimbulkan sakit hati Tuhan (1 Raj 16:32-33). Tampaknya dalam masa pemerintahan raja Ahab, Izebel lebih banyak mendominasi.

Buktinya, Izebel yang memerintah untuk membunuh para nabi-nabi Tuhan (1 Raj 18:4).

Bahkan Nabi Elia pun menjadi takut dengan ancaman Izebel yang akan membunuhnya, karena mendengar cerita dari Ahab mengenai Elia telah membunuh nabi-nabi Baal (1 Raj 19:1-3). Ia-lah yang membujuk Ahab sehingga memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (1 Raj 21:25).

Kekejaman Izebel lainnya, Ahab ingin membeli kebun anggur di samping istananya di Yizreel, tetapi Nabot pemilik tanah itu tidak mau menjualnya. Kekesalan hatinya itu diceritakan kepada istrinya.

 

Tahu bahwa suaminya, mengingini kebun anggur milik Nabot, Izebel pun menggunakan kekuasaan raja Ahab dengan cara membuat tuduhan palsu, sehingga Nabot mati dan kebun anggur milik pusaka nenek moyangnya menjadi milik Ahab (Kej 21:1-16).

Izebel merampas hak orang lain dengan cara membunuh pemiliknya sehingga menjadi milik kepunyaan suaminya. Kebodohan Ahab yang menikahi Izebel dan menjadikan dirinya sebagai penyembah berhala, membawa kehancuran, bukan saja bagi dirinya, keturunannya juga dibinasakan Tuhan.

Berdasarkan bukti sejarah ditemukan segel dari batu opal yang mengandung tulisan dan simbol nama Izebel. Segel ini disimpan di Museum Israel. Hal ini menunjukkan betapa powerfull atau berkuasanya ia di masa hidupnya.

Kehancuran dalam rumah tangga juga disebabkan karena tidak adanya penundukan diri sang istri. Seorang istri yang cekatan nan bijak adalah baik, tetapi istri yang terlalu mendominasi suaminya, itu tidak baik. Sebab selain tidak menempatkan suami sebagai kepala, juga membuat anak-anak kehilangan figur ayah yang seharusnya dihormati.

Keegoisan, keinginan berlebihan, maupun kekerasan hati seharusnyanya dikuasai. Sebaiknya para istri tunduk kepada suami dan para suami seharusnya mengasihi istri, demi keutuhan keluarga dan sebagai wujud saksi Kristus bagi dunia.

Penundukan diri sang istri dan kasih sang suami, bukan saja membuat keluarga harmonis, tetapi menghadirkan Kristus.

 

 

5. Pasutri daalam Alkitab, Yusuf dan Maria: Komitmen Dalam Kesetiaan (Mat. 1:18-25; Mrk. 10:6-12)

Dalam membangun keluarga, tentu dibutuhkan komitmen saling setia. Karena itu, dalam pernikahan Kristen ada ucap janji masing-masing pasangan di hadapan pendeta, jemaat, dan Tuhan. Dengan maksud agar tetap saling menyayangi dan setia hingga maut memisahkan.

Komitmen dalam kesetiaan adalah penting atau utama, sebab pernikahan bukanlah sarana pemuas nafsu belaka dan setelah bosan atau merasa tidak cocok satu sama lain lantas bercerai.

Melainkan pernikahan adalah wujud membuktikan cinta sejati, membangun manusia bermoral dan takut akan Tuhan, yakni mendidik anak-anak yang dititipkan Tuhan, dan sebagai lembaga yang mengharumkan nama Tuhan, melalui keharmonisan, kesaksian, komitmen, dan kesetiaan.

Yusuf dan Maria adalah salah satu teladan yang tepat dalam membangun keluarga Kristen yang berkenan di hadapan Tuhan. Komitmen kedua pasangan suami istri ini dalam kesetiaan, teruji melalui berbagai cobaan atau tantangan yang mereka hadapi demi terjadinya kehendak Tuhan.

Komitmen salah satu pasutri dalam Alkitab ini untuk membangun bahtera rumah tangga, diawali dengan kesepakatan bertunangan. Pertunangan atau disebut kidushin dalam budaya Israel, biasanya berlangsung selama satu tahun. Namun, yang tidak pernah dibayangkan oleh Yusuf, ternyata sebelum mereka dipersatukan sebagai suami istri, Maria sudah hamil.

Tentu hal ini juga memberatkan hati Maria ketika Malaikat memberitahu ia akan hamil, mungkin terbesit dalam pikirannya, akankah Yusuf masih menerimanya. Tetapi Maria tetap taat dan berserah kepada Tuhan (Lukas 1:37).

Komitmen Yusuf juga diuji, ketika ia tahu Maria hamil, tentu seperti kebanyakan pria lainnya, ia pun menjadi kecewa. Kesetiaannya terhadap Maria hampir luntur dan memutuskan untuk menceraikan Maria secara diam-diam (Mat 1:19).

Sebab jika orang banyak tahu dalam kandungan Maria bukanlah anaknya, maka Maria akan dipermalukan dan kemungkinan menerima hukuman berat berupa dirajam batu.

Tetapi niatnya diurungkan ketika Malaikat mendatanginya dan memberitahukan kepadanya bahwa kandungan Maria adalah dari Roh Kudus dan Anak itu adalah Juruselamat dunia (Mat 1:20-25). Yusuf kembali berkomitmen dalam kesetiaan, ia menerima Maria apa adanya.

Baca juga: 7 FAKTA SEPUTAR LGBT YANG PERLU ANDA KETAHUI

Dan meski berbagai persoalan di alami, mulai dari mereka tidak mendapat tempat untuk bersalin dan Yesus harus lahir di kandang domba, mereka harus melarikan diri ke Mesir, dan banyak lagi persoalan yang mereka hadapi bersama, namun Yusuf tetap menjadi suami yang setia bagi Maria, begitu juga sebaliknya.

Kesetiaan mereka terhadap Tuhan dan terhadap cinta mereka teruji hingga maut memisahkan mereka.

Cinta sejati itu, di dalamnya ada pengorbanan yang lahir dari komitmen saling setia. Berkomitmenlah untuk saling setia dan buktikanlah kesetiaan Anda, baik terhadap pasangan hidup maupun kepada Tuhan. Wujudkan rencana Tuhan di tengah-tengah keluarga kita.

Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia, karena itu berkomitmenlah saling setia dan buktikanlah.

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

error: