Kepulangan Yang Tidak Diharapkan

Fokus Hidup – “Renungan ini mengisahkan seorang veteran tentara yang ingin pulang ke rumahnya tetapi ia merasa kepulangannya tidak diharapkan lagi. Kisah renungan yang berjudul Kepulangan yang Tidak Diharapkan ini, sangat mengharukan.

 

Bacaan ayat: Matius 25:35-40
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi 
Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (ayat 35)

ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat 
Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (ayat 36)

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah 
kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami 
memberi Engkau minum? (ayat 37)

Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau 
tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? (ayat 38)

Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi 
Engkau? (ayat 39)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala 
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling 
hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (ayat 40)

 

Seorang tentara AS yang diutus ke Vietnam dan menjadi korban perang, ingin pulang kembali ke rumahnya, tetapi ia berkecil hati karena beranggapan kepulangan yang tidak diharapkan atau kepulangan dirinya tidak diharapkan lagi oleh keluarganya.

 

Baca juga: Menggunakan Kesempatan dengan Benar

Setelah sekian lama ia hidup di Vietnam dan menutup diri dengan keluarganya, suatu hari ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

Ia pun mengirimkan telegram kepada ibunya perihal kepulangannya. Sang Ibu sangat gembira ketika menerima telegram yang tercantum bahwa anaknya akan pulang besok. Betapa tidak, anaknya semata wayang yang telah menghilang selama empat tahun dan dikira telah gugur di medan perang, ternyata masih hidup.

Keesokan harinya sang Ibu mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan anaknya. Seluruh anggota keluarga, sahabat, dan rekan bisnis suaminya pun diundang.

Setibanya di airport kota kelahirannya, pria itu menelpon ibunya, “Bu, saya sudah tiba di bandara, bolehkah saya membawa sahabat baik saya? Tetapi ia seorang yang cacat karena korban perang.” Ibunya menjawab, “boleh, tapi bagian mana yang cacat?” Ia pun menyebutkan bahwa sahabatnya kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya.

Baca juga: Mencintai Walau Harus Terluka, Ini Bukti Kasih

“Oh tidak apa-apa, asalkan tidak lama ia tinggal di rumah kita,” tandas ibunya. “Tetapi wajah dan kulitnya rusak, karena sebagian besar tubuhnya hangus terbakar akibat menginjak ranjau,” ujarnya.

Kalau begitu, lain kali saja kawanmu itu datang ke rumah kita, untuk saat ini suruh dia tinggal di hotel saja, nanti ibu yang bayar biayanya,” jawab Ibunya ditelpon.

Ibunya pun melanjutkan pembicaraannya,

“Coba pikirkan nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat ternama dan nanti akan ada banyak tamu yang datang, apa kata mereka jika melihat seseorang dengan tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Itu akan menurunkan martabat kita, bahkan dapat merusak citra bisnis usaha dari ayahmu nanti.”

Tiba-tiba pemuda itu menutup teleponnya.

Baca juga: Ketaatan Menghancurkan Tembok Penghalang Iman

Kedua orang tuanya dan para tamu menunggu hingga jauh malam, namun pemuda itu tak kunjung datang. Kira-kira subuh sang ibu dihubungi pihak rumah sakit untuk segera ke rumah sakit karena harus mengidentifikasi seorang mayat yang bunuh diri.

Betapa kaget sang ibu, mayat tanpa kaki dan lengan, bahkan kulit dan wajahnya agak rusak, ternyata adalah anaknya.

Rupanya orang yang cacat itu bukanlah sahabat anaknya melainkan anaknya. Sang Ibu tidak mengetahui bahwa anaknya itu yang mengalami cacat fisik, dan karena mementingkan derajatnya ia menolak kehadiran sahabat anaknya yang ternyata adalah anaknya.

Baca juga: Died For 20 Minutes, Kisah Zack Clements

Waktu tak bisa diputar ulang! Di sekitar kita, ada banyak orang yang merasa tidak berarti dan terhina karena keterbatasannya. Padahal mereka membutuhkan perhatian, kasih, dan kepedulian kita. Apakah kita lebih mempertahankan status, derajat, atau gengsi kita?

Ataukah kita mau memiliki kasih Kristus yang mengasihi semua orang, termasuk kaum papa, cacat dan tidak berdaya? Pancarkanlah kasih Kristus.

 

DOA
Bapa di Sorga, ajarku untuk dapat menerima keterbatasan diri sendiri dan mampu untuk berbagi kasih dengan sesama. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Lihat juga:

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel “Kepulangan yang Tidak Diharapkan” ini, bagikanlah ke sosmed (Facebook, Twitter, Gogle+, dll.) Anda. Jangan lupa, Like (Sukai) Fanspage Facebook Fokus Hidup yang ada di situs ini atau klik di sini untuk mendapatkan info-info terbaru dari fokushidup.com.

Mari bergabung juga dengan grup Facebook Fokus Hidup dengan cara klik di sini. Silahkan tinggalkan komentar Anda, bila ingin menanggapi, bertanya, ataupun memberikan saran dan kritik. <>

Leave a Reply