Pasang IklanSaudara ingin memasang iklan? Klik di pasang iklan..

7 PASUTRI DALAM ALKITAB; PEMBELAJARAN MEMBANGUN KELUARGA

Pasutri dalam Alkitab
Via img: https://rebanas.com

Fokus Hidup“Pernikahan Kristen memiliki standarisasi berdasarkan Alkitab dan sebagai orang percaya, kita pun harus memperhatikan hal ini, sehingga menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan. Bagaimana menjadi keluarga yang berkenan dan memuliakan Tuhan? Temukan jawabannya dalam artikel yang berjudul, 7 PASUTRI DALAM ALKITAB; PEMBELAJARAN MEMBANGUN KELUARGA ini.”

 

 

Pernikahan adalah sebuah lembaga yang pertama kali dilegalkan atau disahkan oleh Tuhan. Dan merupakan salah satu tujuan Tuhan menciptakan manusia pada awalnya, yakni “… Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi ….”

Namun tentu ada tujuan yang lebih mulia dari itu, yaitu baik individu maupun dalam pernikahan, manusia seharusnya hidup memuliakan Tuhan dan membangun keluarga yang takut akan Tuhan.

Tentu ada panduan yang jelas dalam Alkitab untuk individu atau orang percaya dalam membangun keluarga Kristus atau keluarga yang memuliakan Tuhan. Beberapa pasangan suami istri atau pasutri dalam Alkitab dapat menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita untuk membangun keluarga yang mengasihi Tuhan.

Baca juga: 7 FAKTA TENTANG KARAKTER SAUDARA-SAUDARA YUSUF DALAM ALKITAB

Memang tidak mudah membangun keluarga yang harmonis dan cinta Tuhan. Sebab ada begitu banyak tantangan yang akan dihadapi oleh setiap keluarga Kristen, baik secara internal maupun eksternal. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain jika ingin keluarga kita berkenan di hadapan Tuhan dan memperoleh kehidupan kekal, yakni harus membangun keluarga yang mengasihi Tuhan.

Selain ada ayat-ayat yang dituliskan dengan pesan jelas untuk keluarga Kristen, juga ada contoh-contoh keluarga atau pasutri dalam Alkitab yang bisa menjadi tuntunan, contoh, teladan, hal yang baik untuk ditiru, ataupun hal yang tidak baik untuk tidak ditiru, yang semuanya dikemas sebagai warning atau tuntunan yang jelas untuk membangun keluarga bahagia.

Oleh karena itu, artikel ini mengajak pembaca untuk belajar dari tujuh pasangan suami istri atau pasutri dalam Alkitab, sehingga bila seseorang sudah menikah atau ingin menikah, dapat membangun keluarga yang takut akan Tuhan, harmonis, dan menjadi berkat.

 

 

1. Pasutri dalam Alkitab, Adam dan Hawa: Terlalu Mencintai (Kej. 3:1-6; Yoh.14:15)

Dalam membangun keluarga yang berkenan kepada Tuhan, yang harus kita perhatikan adalah janganlah terlalu mencintai pasangan hidup kita melebihi kasih kita kepada Tuhan, sebab kita akan mudah mengabaikan perintah Tuhan dibanding mengabaikan keinginan atau permintaan pasangan kita.

Kisah terlalu mencintai ini, dapat kita lihat dalam pernikahan manusia pertama, Pasutri dalam Alkitab, yakni Adam dan Hawa. Adam yang sendirian pada awalnya, akhirnya diberikan pasangan hidup oleh Tuhan, yakni Hawa, tentu dengan maksud agar mereka menjunjung tinggi perintah Tuhan, yakni tidak memakan pohon pengetahuan, sebab mereka akan mati bila memakan buahnya (Kej 2:16-17).

Mati di sini, artinya mereka terbuang dari Taman Eden, terpisah dengan Allah, dan tentu mengalami mati jasmani, di mana umur manusia di bumi ini terbatas, atau cepat lambat setiap orang akan mengalami kematian.

Ular yang telah diperalat oleh Iblis, mendatangi Hawa dan menggodanya dengan memutarbalikan Firman Tuhan. Seharusnya Hawa tidak akan tergoda jika memilih taat kepada perintah-Nya, tetapi malah terlarut dalam bujuk rayu Iblis.

Begitulah dosa, kelihatan menyenangkan, enak, dan sedap di pandang mata, tetapi membinasakan. Tidak hanya Hawa yang memakannya, malah ia mengajak suaminya memakan buah itu.

Baca juga: 7 FAKTA TENTANG PEREMPUAN SUNEM DALAM PL

Reaksi Adam yang pada waktu itu bersama-sama dengannya, bukannya menegur malah terlibat di dalamnya. Yang menyedihkan, Adam tahu kebenaran, tetapi malah memakannya. Apakah saat itu Adam lupa dengan perintah Tuhan?

Tentu tidak, alasan yang tepat adalah ia terlalu mencintai Hawa, sehingga ia mengabaikan perintah Tuhan yang seharusnya ditaatinya.

Kita tidak perlu menyalahkan adam dan Hawa, sebab sebenarnya kita akan melakukan hal yang sama bila kita pada waktu itu ada di taman Eden. Tetapi pelajaran berharga bagi kita adalah kita seharusnya belajar taat.

Janganlah kita mengabaikan perintah Tuhan demi cinta kepada kekasih, pasangan hidup, atau anak-anak kita. Sebaliknya kita menasihati dan membimbing mereka agar takut akan Tuhan.

Sangat mencintai keluarga itu baik, tetapi jangan sampai mengabaikan perintah Tuhan. Jika kita biarkan, bahkan kompromi, maka kita tidak layak di hadapan Tuhan (Mat 10:37-39) dan dapat berakibat hukuman kekal.

Taat sama halnya kita percaya kepada Tuhan Yesus, tidak taat berarti tidak percaya. Akibatnya kematian kekal atau neraka.

 

 

2. Pasutri dalam Alkitab, Abraham dan Sara: Pernah Meragukan Janji Tuhan (Kej. 16:1-3; 18:10-15; 21:1-7)

Jika sebuah rumah tangga yang harmonis, tenteram dan damai, namun tidak memiliki seorang anak, apa yang akan terjadi? Ada banyak kisah yang terjadi di luar kekristenan, mereka memilih menikah lagi dengan seseorang yang bisa memberinya keturunan.

Faktanya, meski segala-galanya dimiliki dan hidup harmonis, tetap saja rasanya kebahagiaan belum lengkap tanpa kehadiran si “buah hati”. Semua pasangan yang sudah menikah pasti merindukan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka.

Bahkan di zaman teknologi yang canggih ini, ada yang sampai mengikuti program bayi tabung, demi mendapatkan keturunan. Padahal, jika Tuhan tidak mengizinkan, dengan cara apapun tidak akan berhasil. Sebaliknya, jika Tuhan yang memberkati janin seseorang, di usia tua sekalipun, ia bisa melahirkan anak.

Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan salah satu pasutri dalam Alkitab, Abraham dan Sara yang sudah sekian tahun menikah namun tidak memiliki seorang anak. Abraham semakin diberkati, semakin kaya, dan keluarga hidup harmonis dengan penyertaan Tuhan, tetapi rupanya tidak memiliki ahli waris.

Hal ini diutarakannya kepada Tuhan dan ia dijanjikan oleh Tuhan bahwa anak kandungnya yang akan menjadi ahli warisnya (Kej 15:2-4). Tentu diceritakannya juga kepada istrinya, tetapi ternyata Sara tidak sabar menantikan janji Tuhan. Terbukti, ia memberikan Hagar, hambanya kepada Abraham untuk melanjutkan keturunan.

Sikap Abraham ini, lebih mendengar nasihat istrinya daripada bertanya kembali kepada Tuhan.

Sebagai suami, Abraham seharusnya menasihati Sara atas keputusan yang dibuatnya, dan sebagai istri, Sara seharusnya mendorong suaminya agar kembali mempertanyakan kepada Tuhan, apa yang harus dilakukan. Namun keduanya terlarut dalam impian hadirnya seorang keturunan di tengah-tengah mereka, yang rupanya bukan dikehendaki Tuhan.

Tetapi Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang selalu menepati janji-Nya terhadap umat yang dikasihi-Nya. Ia kembali mengulangi janji-Nya kepada Abraham mengenai keturunannya dari Sara (Kej 18:1-15) dan merealisasikannya.

Di sini Sara sempat meragukan bahkan menertawakan apa yang ia dengar melalui pembicaraan Tuhan dan Abraham, baginya mana mungkin ia yang sudah mati haid, berusia 90 tahun dan Abraham telah berusia 100 tahun, ia dapat melahirkan seorang anak. Tetapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Baca juga: 6 HAL TENTANG MENJALIN RELASI DENGAN BAIK

Sikap Sara yang meragukan janji Tuhan berakibat fatal di kemudian hari, di mana kedua keturunan Abraham terus berselisih.

Benarlah, keputusan hari ini menentukan hari esok, sebab itu marilah kita lebih bijak memilih yang terbaik bagi diri kita maupun bagi keluarga kita dengan hidup takut akan Tuhan, mintalah hikmat Tuhan.

Selain itu, jadilah kekasih yang setia sebagai penolong dan penyemangat dalam menguatkan iman orang yang kita cintai, bukan sebaliknya. Hal penting lainnya, bangunlah mezbah doa dalam keluarga!

Keluarga yang bahagia adalah menjadikan Tuhan sebagai pusat kebahagiaan mereka, bukan meragukan janji Tuhan.

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

error: