Pasang Iklan MurahSaudara mau pasang iklan? Klik di pasang iklan murah!

7 MAKNA NATAL ATAU KELAHIRAN KRISTUS DI ALKITAB

makna natal
Fokus Hidup
“Benarkah makna dan arti natal mulai memudar? Seperti apa dan bagaimana kita memaknai natal itu? Atau apa makna natal yang sesungguhnya? Sudahkah Kristus lahir di hati kita? Temukan jawabannya dalam artikel yang berjudul, 7 Makna atau Kelahiran Kristus dalam Alkitab ini.”

Natal yang kita kenal dewasa ini, sudah menjadi perayaan yang universal, sebab tidak hanya dirayakan oleh umat kristen saja. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai ornamen, atribut, aksesori dan hal-hal yang berkaitan dengan natal yang ditampilkan pada bulan Desember.

Sayangnya, kemeriahan ini semakin memudarkan makna natal yang sesungguhnya menurut Alkitab, yang telah berlangsung berabad-abad sebelumnya.

Natal kini identik dengan perayaan, pesta pora, hura-hura, baju baru, pohon natal, Santa Klaus, kado, dan banyak lagi legenda yang lahir di seputar Natal, yang kini dipertontonkan di seluruh dunia.

Meski begitu, ada juga sebagian orang Kristen yang tidak merayakan natal dengan berbagai alasan yang mereka formulakan untuk menolak kelahiran Kristus pada 25 Desember.

Baca juga: NATAL MENUNTUN KITA KEPADA-NYA

Selain itu, ada juga orang di luar umat Kristiani yang menolak meski hanya ikut merayakan natal saja, bahkan ada yang menentang untuk mengucapkan “selamat natal”. Namun kelihatannya lebih banyak lagi orang yang merayakannya menurut konsep dunia.

Perayaan yang berlangsung sekian lama, tahun demi tahun ini, sebagian besar dirayakan baik orang Kristen sendiri maupun diluar kristen, ini tentu bukan dalam arti religius, tetapi dalam arti umum, yakni sekedar pesta, hura-hura, dan bersenang-senang untuk mengisi hari libur.

Bahkan di beberapa tempat, seperti di diskotik dan tempat lainnya, natal dirayakan secara tidak benar, seperti pesta pora, hura-hara, membuat keributan, minum-minuman keras, dan melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya.

Di sisi lain, banyak orang Kristen yang merayakan dengan kemewahan dan gemerlapnya perayaan natal. Kemeriahan ini, bila tidak dibarengi dengan menjelaskan pesan Alkitab mengenai kabar natal atau kelahiran Kristus, dapat mengaburkan makna natal yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, kita perlu kembali merenungkan mengenai makna natal yang sesungguhnya, sehingga esensi dan pesan natal tidak memudar atau hilang begitu saja oleh kemeriahan dan gemerlapnya perayaan natal.

Lantas, seperti apa makna natal yang sesungguhnya menurut Alkitab dan pandangan orang Kristen/Katolik? Berikut ini penjelasan 7 Makna Natal atau kelahiran Kristus dalam Alkitab.

Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai hal ini, kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai istilah natal. Istilah natal berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus.

Jadi, natal artinya adalah peristiwa kelahiran Kristus, Sang Juruselamat dunia.

 

 

1. Natal atau Makna Kelahiran Kristus adalah Bukti Cinta Tuhan (Yoh. 3:16)

Makna natal atau kelahiran Kristus yang sesungguhnya merupakan bukti cinta Tuhan kepada manusia yang berdosa.

Sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak langsung membunuh manusia, meski Ia bisa melakukannya. Bahkan, Ia dapat menciptakan kembali manusia yang lebih baik dari sebelumnya, tetapi itu tidak dilakukan oleh-Nya.

Tuhan bukan saja tidak memusnahkan manusia, malah merancangkan penyelamatan.

Bukti cinta Tuhan kepada manusia adalah di mana Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk datang ke dalam dunia mengambil rupa sebagai manusia, agar manusia terbebas dari dosa.

“Karena begitu besar kasih  Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya  yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” (Yoh. 3:16).

Kasih-Nya yang besar ini tidak terkatakan dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun.

Bapa tahu, apa yang akan terjadi dan akan di alami oleh Tuhan Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, tetapi Dia rela mengorbankan anak-Nya untuk mati menggantikan kita. Itu sebabnya, Tuhan Yesus layak ditinggikan dan diagungkan oleh segala makhluk.

Baca juga: 7 ALASAN YESUS HARUS MATI BAGI DUNIA YANG PERLU ANDA KETAHUI

Oleh kasih-Nya, kita beroleh anugerah keselamatan. Bukan dengan barang yang fana, melainkan oleh darah yang mahal, darah Kristus yang suci tanpa dosa.

Karena itu, sebagaimana makna natal yang sesungguhnya ialah bukti cinta Tuhan kepada dunia dan termasuk kita, maka janganlah kita merayakan natal dengan hura-hura, memaksakan diri untuk bisa membeli baju baru, berpesta pora, bahkan mengikuti gaya duniawi lainnya layaknya seperti bukan orang yang percaya kepada Tuhan.

Tetapi biarlah kita memaknai natal dengan merenungkan, bahwa Dia Allah Maha Kudus yang sangat mengasihi kita dan telah membuktikan cinta-Nya dengan memberikan Anak-Nya yang Tunggal bagi orang berdosa.

Lebih dari itu, milikilah kerelaaan untuk berkorban bagi Tuhan, sebagaimana Ia terlebih dahulu berkorban karena cinta-Nya. Persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan, seperti halnya Orang Majus mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. (Baca: Tuhan menuntu)

 

 

2. Natal atau Makna Kelahiran Kristus adalah Bukti Tuhan yang Rendah Hati (Fil. 2:6-9)

Makna natal atau Kelahiran Kristus yang sesungguhnya adalah natal merupakan bukti karakter Tuhan yang rendah hati, melalui Pribadi Kristus.

Tuhan Yesus pernah berkata bahwa “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:29).

Pernyataan Tuhan Yesus ini bukanlah isapan jempol semata, melainkan memang fakta bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang rendah hati. Tidak ada sifat kesombongan dan meninggikan di dalam Diri-Nya.

Memang Tuhan tidak perlu menyombongkan dan meninggikan diri, sebab tanpa Ia memamerkan dengan kesombongan pun, tetap saja malaikat, Bala Tentara sorga, bahkan alam semesta ini akan memuji dan mengagungkan kemegahan dan kedahsyatan-Nya. Di sisi lain, kesombongan bukanlah sifat Allah yang sejati.

Sosok yang bersifat sombong, meninggikan diri, dan ingin menguasai segalanya adalah sifat Iblis, oleh sebab itu ia memberontak kepada Allah. Ia merasa bisa menguasai jagad raya dan merasa bisa sejajar dengan Tuhan Sang Pencipta, karena itu ia akan dibinasakan bersama manusia yang memilih untuk menyembah dia.

Baca juga: Merasa Berjasa? Jangan Memiliki Hati yang Sombong!

Sebaliknya, manusia yang sombong dan selalu meninggikan diri, berarti ia mewarisi sifat iblis yang buruk ini. Sebab itu, Tuhan berfirman, “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yer. 17:5)”

Hal ini tentu menunjukkan bahwa sifat Allah adalah rendah hati dan membenci kesombongan. Karakter-Nya yang Maha Suci ini, terbukti melalui Kristus yang rela “merendahkan diri” dengan menanggalkan ke-Allahan-Nya dan mengambil rupa sebagai manusia (Kenosis).

Dia adalah Anak Allah yang kudus namun rela datang ke dunia dan menjadi sama seperti manusia. Ia rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia (hamba) agar bisa mati bagi dosa-dosa dunia (Filipi 2:5-8).

Yesus adalah Tuhan yang turun dari singgasana-Nya di sorga dan datang ke bumi dengan cara berinkarnasi, mengambil rupa seorang manusia dan tinggal di antara manusia (Yoh. 1:1,14).

Sebagaimana Allah yang kita sembah adalah Allah yang rendah hati dan natal sebagai bukti karakter Allah yang rendah hati, sudah seharusnya kita juga memiliki karakter yang sama seperti Tuhan Yesus, yakni rendah hati.

Biarlah peristiwa natal ini, mengingatkan kita untuk mengenakan pakaian kerendahan hati. Sehingga kita bersedia merendahkan diri untuk turun ke bawah merangkul orang-orang susah, miskin, terbuang, dan terpinggirkan.

Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus, Anak Allah yang kudus. Ia tidak lahir di ibu kota Israel, Yerusalem, atau di ibu kota kekaisaran Romawi, Roma, namun di kota kecil Betlehem (Lukas 2:4-6). Bahkan, Ia tidak lahir di istana, namun di dalam palungan, atau tempat makan ternak (Lukas 2:7).

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Komentar Anda:

error: