SOSOK PENUNGGANG KUDA PUTIH (Wahyu 19:11-16)

 

Pendahuluan

Kitab Wahyu ini berisi tentang penglihatan Yohanes yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang hingga kerajaan seribu tahun, bahkan sampai kepada kekekalan (langit dan bumi yang baru).

 

Kitab Wahyu ini mengingatkan kepada kita akan kedahsyatan dan kemahakuasaan Tuhan pada kesudahan zaman, sekaligus rencana-Nya yang indah, mahkota yang disediakan bagi mereka yang bisa mengakhiri pertandingan iman dengan baik, dan memiliki tempat tinggal di Sorga yang kekal.

Sebagaimana Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa Ia akan kembali ke tempat-Nya yang semula yakni takhta Allah yang Kudus dan menyediakan tempat bagi orang percaya (Yoh 14:1-3). Maka kita akan mendapat tempat di kehidupan kekal. (Baca juga: Menjadi Penyembah yang Benar)

 

Setiap orang percaya pasti menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan merindukan Kristus datang sebagai Hakim dan Raja. Kedatangan Kristus yang kedua kali inilah yang dijelaskan dalam nats ini.

 

Kedatangan Kristus kedua kali ini, berbeda dengan peristiwa kedatangan Kristus pertama kali ke dalam dunia. Jika kedatangan-Nya ke dalam dunia menjadi manusia, maka kedatangan yang kedua kali, Kristus datang sebagai Raja yang akan memerintah bangsa-bangsa. (Baca juga: Seruan Beribadah dengan Bersorak-sorak)

 

Namun yang menjadi pertanyaan, seperti apakah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali itu? Siapakah sosok penunggang kuda putih dalam Wahyu 19:11-16? Dan, apakah penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 dan Wahyu 19:11-16 adalah penunggang yang sama?

 

Gambaran Sosok Penunggang Kuda Putih

Khusus di dalam nats ini, Yohanes menjelaskan mengenai penunggang kuda putih. Di sini Yohanes melihat sorga terbuka dan munculah kuda putih dan penunggang-Nya, “Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya ….” 

 

Gambaran dari sosok sang penunggang kuda putih ialah: 
  • Yang Setia dan yang Benar.
  • Menghakimi dan berperang dengan adil
  • MataNya bagaikan nyala api
  • Kepala-Nya banyak mahkota
  • Memakai jubah yang telah dicelup dalam darah
  • NamaNya Firman Allah
  • Ia memiliki pasukan bala tentara Sorga yang mengikuti-Nya
  • Dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam
  • Menggembalakan dengan gada besi
  • Pada jubah dan pahaNya tertulis Raja segala raja

 

Siapa penunggang kuda putih?

Penungang kuda putih di sini digambarkan sosok yang hebat, dahsyat, dan luar biasa sebagaimana digambarkan di atas. Melihat dari ciri-ciri atau gambaran sosok-Nya, maka jelas bahwa penunggang kuda putih di sini ialah Tuhan Yesus Kristus yang datang kedua kalinya dengan segala kedahsyatan, kemahakuasaan, keaguangan, ketegasan, kemurkaan, keadilan, kejayaan, dan kekekalan-Nya.
Pribadi Yesus di sini digambarkan sebagai:
  • Sang Pribadi yang setia dan benar. (ay. 11)
  • Sang Hakim dan panglima perang yang berperang dengan adil. (ay. 11,14)
  • Sang Raja yang dahsyat (ay 12, 15-16)
  • Sang Penguasa atau Tuhan yang adalah Allah yang hidup (ay. 13, 15)

Perbedaan penunggang kuda putih Wahyu 6:2 dan 19:11-16

Sebelum menjelaskan tentang kedahsyatan Tuhan Yesus sebagai penunggang kuda putih, terlebih dahulu kita harus mengetahui perbandingannya dengan penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2. Hal ini perlu diketahui sebab ada banyak orang salah tafsir tentang siapa penunggang kuda putih di dalam dalam Wahyu 6:2 ini. (Baca juga: Menjadi Penyembah yang Benar – Bag 2)
 
Perbedaannya:

 

Wahyu 6:2 

 

  • Penunggang sebuah panah
  • Dikaruniakan sebuah mahkota
  • Maju sebagai pemenang
  • Untuk merebut kemenangan

 

 


Wahyu 19:11-16 

  • Ia disebut Setia dan Benar (ay. 11)
  • Ia Memiliki banyak mahkota (ay. 12)
  • Ia menghakimi dan berperang dengan adil (ay. 11),tentu sudah meraih kemenangan.
  • Ia adalah Firman Allah (ay. 13)
  • Raja yang berkuasa, membinasakan, dan menggembalakan dengan gada besi, dan memerintah (ay. 14-16)
Dari perbedaan di atas, maka penunggang kuda putih, keduanya berbeda. Tuhan Yesus bukan penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2, melainkan Ia adalah penunggang kuda putih dalam Wahyu 19:11-16. (Baca juga: Bukti Tuhan itu ada)
Selain itu, jika melihat konteks nats ini, bahwa Wahyu 6:2 merupakan meterai pertama yang dibuka oleh Anak Domba yang adalah Tuhan Yesus sendiri. Yang menjadi pertimbangan, apakah Tuhan Yesus yang membuka meterai, kemudian langsung menunggang kuda putih, dan balik lagi membuka meterai selanjutnya? Jadi jelaslah penunggang tersebut bukan Tuhan Yesus.
Siapakah penunggang kuda putih pada Wahyu 6:2? Jika kita melihat dengan seksama berdasarkan penafsiran futuris bahwa Wahyu 6 dan seterusnya berbicara tentang peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman yang diawali dengan Anak Domba membuka meterai, maka penunggang kuda putih pada Wahyu 6:2 tersebut adalah Antikris. Alasannya: 
  • Kuda putih sebagai yang pertama dari keempat kuda harus dilihat sebagai bagian dari kuasa perang, kelaparan, dan kematian.
  • Kuda ini dipakai untuk berperang dan busur panah adalah senjata untuk membunuh.
  • Penunggang kuda putih mempunyai senjata busur panah bukan pedang seperti digambarkan dalam Wahyu 19:15.
  • Kuda putih berpakaian biasa tidak memakai jubah putih seperti dalam Wahyu 1:13.
  • Dikaruniakan sebuah mahkota sedang Kristus memiliki banyak mahkota.
  • Tampil sebagai pemenang untuk merebut kemenangan, sedangkan Kristus sudah menang dan Ia datang kedua kali untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja kekal.
Kaitannya dengan antikris sebab masa kesudahan zaman diawali dengan kekuasaan antikris akan dunia ini. Masa ini adalah masa antikris memerintah. Dalam Matius 24:15, Antikris tampil di bait Allah.

 

Perbandingan Kedatangan Kristus Pertama dan Kedua Kali

Timotius Subekti dalam bukunya Kitab Wahyu Rahasia Akhir Zaman 3, menggambarkan perbandingan Kedatangan Kristus pertama kali dan kedua kali:

Kedatangan Kristus pertama kali 

  • Langit terbuka (Mat:13)
  • Datang menunggangi seekor keledai (Za 9:9, Luk. 10:34)
  • Diberi mahkota duri (Mat 27:29)
  • Dengan tubuh yang berlumuran darah (Yoh 19:34).
Kedatangan Kristus Kedua Kali

 

  • Langit terbuka (Why. 19:11)
  • Datang menunggangi seekor kuda putih (Why 19:11)
  • Dengan banyak mahkota di kepalaNya
  • Dengan pakaian yang berlumuran darah.

 

 

Perbandingan empat kedudukan Tuhan Yesus pada masa kedatangannya pertama kali dan kedatangannya kedua kali:
Kedatangan Kristus pertama kali:

 

  • Sebagai Hamba: Dia ditolak sebagai nabi = hamba Allah, yang memberitakan kebenaran (Yoh. 8:40,45). Mereka berkata: “dari Galilea tidak terbit seorang nabipun!” (Yoh. 7:52)
  • Sebagai Anak Manusia: Dia dianiayakan! Sengsara sebagai manusia. PengakuanNya sebagaiAllah yang menyebabkan Yesus harus menerima mahkota duri!
  • Sebagai Allah: Dia disalibkan sehingga mengeluarkan darah (Mat. 26:63-6; 27:43), sebab pernyataanNya sebagai Allah!
  • Sebagai Raja: Ia dipermainkan oleh tentara-tentara Roma dan penghulu-penghulu Yahudi (Mat 27:27-31).

 

 

Kedatangan Kristus Kedua Kali:

 

  • Sebagai Hamba: Dia diberi wewenang untuk menghukum, sebab Dialah yang tahu siapa yang mau menerimaNya dan yang menolakNya (Why. 19:11). Hamba itu akan menjadi hakim yang besar.
  • Sebagai Anak Manusia: Dia menunjukkan diri sebagai pemenang atas maut dan karena itu Dia datang dengan memakai mahkota banyak! (Why. 19:12)
  • Sebagai Firman = Allah – Dia akan datang untuk membinasakan mereka yang melawan Firman, sehingga darah mengalir (19:13)
  • Sebagai Raja: Ia akan datang dengan kemurkaan yang besar atas mereka yang mempermainkanNya (19:15-16).

 

 

Kesimpulan

Penunggang kuda putih digambarkan sebagai yang Setia dan yang Benar, mata-Nya bagaikan nyala api, kepala-Nya banyak mahkota, memakai jubah yang telah dicelup dalam darah, nama-Nya Firman Allah, memiliki pasukan bala tentara Sorga, dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam, menggembalakan dengan gada besi, dan pada jubah dan paha-Nya tertulis Raja segala raja. (Baca juga: Teologi Paulus dalam Surat Titus)
Sosok penunggang kuda putih yang begitu mengagumkan dan luar biasa ini, penunggangnya tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Sebab Yesus digambarkan sebagai Sang Pribadi yang setia dan benar, Sang Hakim dan panglima perang yang berperang dengan adil, Sang Raja yang dahsyat, Sang Penguasa atau Tuhan yang adalah Allah yang hidup.
Di dalam Wahyu 19:11-16, Yesus adalah Sang Penunggang kuda putih, sedangkan di dalam Wahyu 6:2 ada yang menafsirkan bahwa itu adalah Tuhan Yesus sebagai penunggangnya, namun bila diperhatikan akan terlihat perbedaan yang jelas.
Pertama, di dalam Wahyu 6:2, sang penunggang membawa panah, sedangkan Yesus disebut memakai pedang tajam yang keluar dari mulut-Nya. Kedua, penunggang kuda putih itu dikaruniakan sebuah mahkota, sedangkan Yesus disebut memiliki banyak mahkota di kepala-Nya.
Ketiga, penunggang kuda putih itu maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan, sedangkan Yesus tidak lagi merebut kemenangan sebab kemenangan sudah ada di tangan-Nya. Ia datang untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja Kekal.
 
Keempat, meterai itu dibuka oleh Sang Anak Domba yang adalah Tuhan Yesus sendiri, maka tidak mungkin Tuhan Yesus yang membuka meterai pertama itu, lantas langsung menunggang kuda putih dan balik lagi membuka meterai kedua. (Baca juga: Natal menuntun kita kepada-Nya)
Penungang kuda putih dalam wahyu Wahyu 6:2 tersebut merupakan Antikris. Sebab kuda putih sebagai yang pertama dari ketujuh meterai yang dibuka oleh Tuhan Yesus, merupakan bagian dari penyesatan, kuasa perang, kelaparan, dan kematian.
Jadi penunggang kuda putih ini datang untuk meraih kemenangan dengan menyesatkan bangsa-bangsa melalui pemerintahannya sebagai Antikris. Meterai pertama perlu dilihat sebagai tampilnya Antikris sebagai penguasa dunia di mana dalam Matius 24:15, Antikris tampil di bait Allah yang sudah dibangun, yakni bait Allah ketiga.
Kedatangan Kristus Kedua Kali sangat jelas yakni langit terbuka dan Ia menunggangi seekor kuda putih, dengan mata-Nya bagaikan nyala api dan banyak mahkota di kepalaNya. Ia datang dengan kedahsyatan untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja yang kekal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *