Mengasihi Tanpa Pandang Muka

Fokus Hidup - "Seperti apa kasih Yesus yang tanpa pandang muka? Mengapa kita harus mengasihi tanpa pandang muka? Simak renungan berjudul Mengasihi tanpa Pandang Muka ini, dan jika Anda merasa diberkati melalui renungan ini, bagikanlah ke Sosial Media (Facebook, Twitter, Google+, dll.) Anda, agar banyak orang yang juga dikuatkan melalui renungan ini."

Bacaan ayat: Yohanes 8:1-11
tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (ayat 1)

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. 
Ia duduk dan mengajar mereka. (ayat 2)

Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang 
kedapatan berbuat zinah. (ayat 3)

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan 
ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. (ayat 4)

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. 
Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (ayat 5)

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk 
menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (ayat 6)

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada 
mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu 
kepada perempuan itu." (ayat 7)

Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. (ayat 8)

Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai 
dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap 
di tempatnya. (ayat 9)

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? 
Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" (ayat 10)

Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, 
dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (ayat 11)

 

Setelah hari raya Pondok Daun di Yerusalem selesai, Tuhan Yesus pergi ke bukit Zaitun dan kembali ke Bait Allah keesokan harinya.

Ketika Yesus berada di bait Allah, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang berzinah pada Yesus untuk mencobai-Nya.

Ketika mereka mendesak Yesus untuk memberikan pendapat tentang wanita itu, Yesus  hanya  memberikan  jawaban,  jika  di  antara  mereka  tidak ada yang berdosa, maka mereka boleh melempari wanita itu dengan batu sesuai dengan hukum Taurat yang mereka pegang dengan kuat. Rupanya,  mulai dari yang tertua, pergi dari tempat itu karena menyadari mereka pun orang berdosa.

Baca juga: Milikilah Pengharapan

Akhirnya, tidak ada satu pun yang melakukannya. Tuhan Yesus kemudian memberikan perintah kepada wanita itu untuk tidak berbuat dosa lagi.

Dari peristiwa tersebut, kita menemukan kasih Yesus yang besar (agape) terhadap wanita itu. Dia tidak memandang latar belakang dan keberadaan wanita itu yang dianggap najis oleh para pemuka agama.

Hanya Tuhan Yesus yang layak memberikan hukuman karena Ia tidak berdosa atau tidak pernah melakukan dosa, tetapi Ia tidak menghukumnya sesuai dengan hukum rajam yang berlaku saat itu, seperti yang ada di dalam hukum Taurat.

Kasih Yesus kepadanya dapat dilihat dari kata-kata yang Ia ucapkan, “...  Aku pun tidak akan menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (ay. 11). Yesus tidak menghukum wanita itu. Hal ini berarti bahwa Yesus mengampuni dia. Seseorang akan mampu mengampuni kesalahan orang lain ketika ia memiliki kasih Tuhan dalam kehidupannya.

Pengampunan merupakan bagian dari kasih Tuhan. Inilah kasih Tuhan Yesus yang besar. Yesus mengampuni wanita yang baru saja ditemuinya, seorang wanita berdosa, yang  dibenci dan terkucilkan oleh karena kehidupan kelamnya, namun Yesus tetap mengasihinya.

Kasih Yesus merupakan kasih yang tidak memandang rupa, seperti halnya syair dalam sebuah lirik lagu, “Kau bukan Tuhan yang melihat rupa, Kau bukan Tuhan yang memandang harta.”

Kasih Yesus sebagai kasih agape, tanpa pandang muka. Ia mengasihi manusia berdosa dan menawarkan kehidupan kekal bagi siapa saja yang mau  percaya kepadanya (Yoh. 3:16).

Kasih seperti inilah yang patut kita teladani dan realisasikan dalam hidup kita sebagai orang percaya. Dalam hubungan kita dengan sesama, hendaknya kasih yang kita miliki bukan kasih yang membeda-bedakan rupa, status sosial, dan latar belakang kehidupan seseorang.

Baca juga: Paradigma Alkitabiah

Motivasi kita dalam mengasihi sesama tanpa pandang muka yaitu ingatlah bahwa Kristus terlebih dahulu mengasihi kita sebagai orang berdosa dan kita tidak layak di hadapan-Nya, namun menerima pengampunan-Nya dan dibenarkan.

Maka, kasihilah sesama kita dengan kasih Kristus tanpa pandang muka, sebab Kristus telah mengasihi kita tanpa melihat rupa, status, dan latar belakang kita. Dia mau mengampuni dan mau memulihkan kehidupan kita. (Nantikan renungan berikutnya yang berjudul mengasihi tanpa pandang waktu).

DOA
Bapa, terkadang aku egois dan tidak taat akan Firman-Mu, tetapi ku percaya dan berpengharapan,  Engkau akan mengubahkan aku. Dalam nama Tuhan Yesus berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *