Fokus Hidup"Bila Tuhan menjadi nomor satu, kefanaan takkan mampu mengikat!!!"

7 ALASAN YESUS HARUS MATI BAGI DUNIA YANG PERLU ANDA KETAHUI

 

Fokus Hidup - "Banyak orang bertanya-tanya, mengapa Tuhan Yesus harus mati di atas kayu salib? Apakah tidak ada cara lain selain Tuhan Yesus harus mati? Mengapa Ia dinubuatkan dalam Perjanjian Lama bahwa Ia akan mati menebus umat manusia dari dosa dan kutuk? Artikel ini menjelaskan dengan singkat 7 alasan Yesus harus mati bagi dunia yang perlu Anda ketahui."

 

Sebelum lebih jauh membahas alasan Tuhan Yesus harus mati bagi dunia, kita perlu membahas terlebih dahulu mengenai kejatuhan manusia atas dosa.
Manusia diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa Allah dan ditempatkan di tempat yang istimewa yaitu di Taman Eden. Tetapi manusia pertama, Adam dan hawa jatuh ke dalam dosa akibat ketidak taatan sehingga saat itu juga manusia hilang kemuliaan Allah, dikuasai dosa, dan mengalami kematian baik rohani maupun jasmani.

Mungkin kita berpikir bahwa ini adalah kesalahan Adam dan Hawa sehingga kita manusia jatuh dan dikuasai dosa, tetapi perlu kita ketahui bahwa tidak ada bedanya kita dengan Adam dan Hawa, jika kita sewaktu itu ada di Taman Eden, kemungkinan kita akan melakukan hal yang sama, yakni memakan buah terlarang.

Dosa telah membuat manusia terpisah dengan Allah. Tentu tidak ada cara lain yang paling efektif untuk menyelesaikannya selain Allah sendiri yang merancangkan keselamatan itu, sebab manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Jika Allah bisa menjadi manusia, itu logis, tetapi manusia menjadi Allah, itu diluar kodratnya dan tentu tidak akan bisa menjadi seperti Allah. Inilah siasat kuno sang iblis sebagaimana ia melakukannya kepada Hawa.

Baca juga: GENERASI PENYEMBAH: TIGA CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA DALAM ROH DAN KEBENARAN

Jika memakan buah itu maka ia akan menjadi seperti Allah, begitu juga kebohongan yang dilakukan iblis hingga masa kini, yakni jika seseorang bertapa, berbuat baik, hidup kudus, menyucikan diri, dsb, ia akan menjadi Allah, dewa, atau manusia super.
Ketahuilah, manusia tidak akan bisa menjadi Allah sampai kapan pun, bila dengan cara-cara demikian. Tetapi di dalam Kristus, kita spesial, kita istimewa, sebab kita diberi kuasa menjadi anak Allah (Yoh. 1:12), hamba, dan sahabat-Nya.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak bersifat kejam dengan langsung membunuh atau membinasakan manusia. Ia mengusir manusia dari Taman Eden agar manusia tidak memakan pohon kehidupan sehingga dosa menjadi kekal (Kej. 3:22) dan tentu tidak akan ada penebusan. Di sinilah awal kasih Allah terlihat, di mana Tuhan kembali merangkul manusia dengan kasih-Nya.
Sebenarnya, sejak awal Tuhan telah merancangkan keselamatan umat manusia melalui Tuhan Yesus (Kej. 3:15; bnd. Yes. 7:14). Hanya Yesus satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat manusia tidak ada yang lain. Mengapa? Berikut penjelasannya!

 

1. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab Tidak Ada yang Bisa Mengembalikan Gambar Diri

Alasan pertama yang perlu kita ketahui adalah kejatuhan manusia di dalam dosa merusak gambar diri Allah di dalam diri manusia, sebab manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah (Kej. 1:27). Tentu seluruh ciptaan Allah akan melihat manusia adalah gambar dan rupa Allah. Gambar Allah di sini, terkait karakter atau sifat-sifat dan eksistensi.
Maksudnya, karakter manusia penuh kasih, kudus, dan pribadi yang bertanggung jawab. Keberadaannya ialah penuh kemuliaan Allah dan bersifat kekal atau tidak pernah mati. Tetapi karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka gambar diri Allah menjadi rusak. Sifat dosa warisan secara lahiriah turun kepada manusia turun temurun.
Bukan saja manusia menjadi berdosa ketika melakukan dosa, melainkan sejak ia terlahir, seseorang sudah berdosa (Rm. 3:23; Mzm. 51:7). Dosa membuat manusia menjadi picik, licik, ambisius, mencari keuntungan, dan selalu melakukan kejahatan atau tidak berkenan kepada Allah. Tidak ada yang bisa mengembalikan status manusia dengan benar, sehingga kembali memiliki gambar Allah. Siapa pun dia, tidak ada yang bisa!
Manusia tidak bisa mewakili manusia yang lain untuk bisa mengembalikan gambar diri Allah di dalam dirinya. Juga tidak bisa menjadi setengah dewa atau manusia super sehingga bisa menyelamatkan orang lain. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan dirinya sendiri saja ia tidak bisa. Jelas tidak ada seorang pun manusia yang bisa mengembalikan gambar diri.
Siapa yang bisa? Hanya Yesus yang bisa mengembalikan gambar dan rupa Allah sehingga kita dapat menjadi manusia Allah. Bagaimana mungkin manusia dapat mengembalikan dirinya segambar dengan Allah, jika bukan Allah sendiri yang menunjukkan jalan-Nya? Jalan satu-satunya untuk mengalami pemulihan gambar diri adalah Yesus harus mati di atas kayu salib.
Kristus memperbaharui perjanjian Allah dengan umat manusia mengenai keselamatan dengan cara Ia harus mati. Maka, seorang Kristen yang bertobat, ia akan berbuah roh (Gal. 5:22-23). Buah roh adalah salah satu bentuk gambar diri Allah. Sebab Allah kita, sifat-Nya Mahakasih, penyayang, setia, panjang sabar, dan sebagainya.

 

2. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab Tidak Ada yang Bisa Mengalahkan Kuasa Dosa

Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kuasa dosa yang mengikat kebiasaan seseorang. Justru sebaliknya, manusia hanya bisa melakukan perbuatan baik, menyucikan diri, dan berpikir hal-hal yang baik, tetapi sebenarnya tidak bisa mengalahkan kuasa dosa itu sendiri.
Perlu kita pahami terlebih dahulu apa itu dosa. Dosa itu adalah semua kejahatan manusia (1 Yoh. 5:17), pelanggaran hukum Allah (1 Yoh. 3:4), bahkan jika seseorang tahu berbuat baik tetapi tidak melakukan, maka itu juga adalah dosa (Yak. 4:17).
Jadi, dosa tidak hanya berbicara tentang kejahatan manusia yang luar biasa, tetapi juga mengenai ketidak taataan seseorang terhadap perintah Tuhan, termasuk tahu harus berbuat baik, tetapi malah ia tidak melakukannya. Bukankah Adam dan Hawa tidak melakukan dosa yang besar seperti membunuh atau mengkhianati Tuhan dengan merekrut seluruh ciptaan-Nya untuk menentang Tuhan?
Mereka hanya tidak taat kepada perintah Tuhan dengan memakan buah terlarang. Tetapi, ketidak taatan merupakan masalah besar terhadap relasi Tuhan dan manusia. Rupanya, ketidak taatan bukan masalah kecil di mata Tuhan. Kita mungkin bisa memilah-milah dosa kecil dan dosa besar, tetapi dosa entah itu kecil atau besar, sama-sama mengikat dan berakhir kepada maut.
Faktanya, ketidak taatan membuat manusia harus terhenti menikmati kenyamanan dan fasilitas yang dia peroleh dari Tuhan di Taman Eden. Kejatuhan manusia di dalam dosa, selain membuat manusia hilang kemuliaan Allah dan terpisah jauh dari Allah, juga manusia tidak bisa keluar dari kuasa dosa itu sendiri.
Keterikatan dosa dimulai dari kecenderungan atau keinginan seseorang berbuat dosa hingga berujung maut (Yak. 1:14). Tidak ada yang mampu mengalahkan kuasa dosa di dalam dirinya.
Dosa yang terus mengikat akan membawa kita kepada keinginan-keinginan daging yang semakin berlebihan, karena Tuhan sendiri yang menyerahkan manusia berdoa kepada keinginan yang semakin kuat, termasuk hubungan seks yang tidak wajar, yakni pria dan pria, wanita dan wanita, akibatnya mengalami sakit penyakit kelamin (Rm. 1:24-32).
Manusia tidak bisa melepaskan sesamanya dari kuasa dosa, sebab ia sendiri juga membutuhkan juruselamat. Kabar baiknya, karena tidak ada seorang pun, bahkan malaikat sekalipun, di sini Allah yang penuh kasih bersedia mengutus Anak-Nya yang tunggal menjadi Juruselamat dunia (Yoh. 3:16).
Mengapa harus Yesus? Karena Allah tahu ciptaan-Nya tidak bisa menolong ciptaan-Nya yang lain, hanya Dia-lah Sang Pencipta yang sanggup mengalahkan kuasa dosa seutuhnya. Maka, mau tidak mau, Ia pun harus mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk mati bagi dunia, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal.
Anugerah terbesar bagi manusia adalah Tuhan Yesus bersedia mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, sehingga kita terlepas dari kuasa dosa. Tetapi bukan berarti seseorang tidak bisa berbuat dosa lagi ketika menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia, melainkan jelas perlombaan iman kita adalah “berjuang melawan dosa” (Ibr. 12:1).

 

3. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab Tidak Ada yang Bisa Membatalkan Hukuman Kekal

Upah dosa adalah maut, jelas disebutkan dalam Roma 6:23. Maut berbicara tentang hukuman kekal. Setiap orang tidak bisa terhindar dari hukuman kekal, karena faktanya semua orang telah berdosa. Perbuatan baik tidak menyelamatkan, hukum Taurat tidak menyelamatkan, bahkan cara bertapa atau penyucian diri pun tidak bisa menyelamatkan.
Hukuman kekal tidak akan menimpa manusia tentu jika Allah sendiri yang membatalkan hukuman-Nya terhadap manusia yang berdosa. Persoalannya, bisakah Tuhan membatalkan hukuman-Nya bagi orang berdosa? Atau bisakah Tuhan membatalkan hukuman kekal terhadap orang yang percaya kepada-Nya tanpa harus mengutus Yesus untuk mati bagi dunia?
Tentu tidak bisa, Sebab Allah tidak bisa menyangkali Firman-Nya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang konsisten pada perkataan dan janji-Nya. Tetapi, sebetulnya Ia telah memberikan sarana pembenaran bagi manusia, yakni hukum Taurat. Sayangnya hukum Taurat tidak bisa membenarkan manusia seutuhnya melalui korban penghapus dosa. Harus setiap tahun mempersembahkan korban.
Cara satu-satunya, Allah harus mengutus penyelamat bagi dunia. Tetapi siapakah yang bisa menjadi juruselamat? Apakah manusia? Manusia tidak ada yang layak. Malaikat? Malaikat pun tidak layak, sebab sama seperti manusia, malaikat adalah pelayan Allah.
Bedanya dengan malaikat adalah manusia memiliki kehendak bebas dan malaikat juga diciptakan juga untuk melayani manusia. Bahkan sebenarnya, status kita sewaktu diciptakan Tuhan sebelum jatuh dalam dosa adalah lebih tinggi dari malaikat.
Lantas siapa yang bisa membatalkan hukuman kekal? Tentu hanya Yesus Anak Allah yang layak dan bisa membatalkan hukuman kekal. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya, memperoleh keselamatan, sebab Dia-lah pemegang kunci sorga (Kis. 4:12).

Kehidupan seseorang yang percaya kepada-Nya, saat itu juga ia beralih dari maut kepada hidup yang kekal, karena Yesus telah mati menebus dosa umat manusia.

 

4. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab tidak Ada yang Bisa Menggenapi hukum Taurat

Hukum Taurat bukan hanya ada 10 Hukum saja. 10 Hukum Taurat tersebut hanyalah sebagian dari perintah Tuhan. Total seluruh perintah Tuhan yang ada di dalam kitab Pentateukh, yaitu lima Kitab yang ditulis Musa, yang juga disebut Kitab Taurat, adalah 613 Mitzvot atau perintah Tuhan.
Bisa dibayangkan, aturan atau norma-norma yang ada tersebut harus ditaati sepenuhnya, tidak bisa bercacat cela. Gagal satu perintah saja dalam menjalankan hukum Taurat maka gagal seluruhnya (Yak. 2:10; Rm. 3:20). Sebegitu ketatnya aturan hukum Taurat, sehingga jelas tidak ada satu pun yang mampu melakukan bahkan menggenapi hukum Taurat.
Siapa yang bisa menggenapi hukum Taurat tanpa cela? Abraham, Yakub, ataukah Yusuf? Walau mereka tidak hidup di zaman Hukum Taurat dan mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat adalah keturunannya, tetapi mereka juga tidak bisa menjadi teladan sempurna.
Kita perlu belajar dari mereka sebagai tokoh-tokoh iman yang luar biasa, tetapi kita tidak bisa sepenuhnya belajar akan seluruh kehidupan mereka, hanya sebagian saja. Itu pun hal-hal yang baik atau berkaitan dengan teladan iman mereka. Ada bagian hidup mereka yang tidak bisa kita teladani.
Begitu juga dengan Musa, Samuel, Daud, Daniel, dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya. Kita hanya bisa belajar sebagian dari kehidupan mereka yang berkaitan dengan iman mereka. Sebab semua tokoh yang hebat di dalam Alkitab adalah manusia biasa yang tidak luput dosa dan pelanggaran.
Siapakah yang bisa menggenapi Hukum Taurat? Tidak ada satu pun yang bisa menggenapi atau membatalkan hukum Taurat, kecuali Allah sendiri Sang pemberi Hukum Taurat.
Hukum Taurat bukanlah hukum yang sempurna, dan Tuhan tahu akan hal itu, maka Ia memberikan sarana pembenaran yang akan membuka jalan yang baru, yakni perjanjian-Nya yang diperbaharui melalui diri-Nya sendiri. Jadi, hanya Allah sendirilah yang bisa menggenapi atau membatalkan Hukum Taurat. Sebab itu, di zaman PL, Tuhan menubuatkan akan kedatangan Mesias.
Siapa Mesias itu? Dialah Allah sendiri yang menjadi manusia (Yoh. 1:1,14). Hanya Allah sendiri yang bisa menggenapi atau membatalkan Hukum Taurat (Mat. 5:17; Ef. 2:15), melalui pengorbanan Kristus. Hanya Yesus satu-satunya teladan tanpa cela dan tanpa dosa yang layak menggenapi hukum Taurat. Hebatnya, Hukum Taurat yang digenapi dari 613 Perintah, menjadi 2 Hukum Kasih.
Hukum kasih ini adalah hukum yang perfect yang memperbaharui Perjanjian Allah dengan manusia, barangsiapa percaya, ia diselamatkan. Kini, kita melakukan perintah Tuhan bukanlah lagi dengan kekuatan kita yang harus menaati Hukum, melainkan oleh kuasa Roh Kudus kita dimampukan untuk mengasihi Tuhan seutuhnya.

Jadi, salah satu alasan kuat mengapa Yesus harus mati, karena tidak ada yang bisa membatalkan hukum Taurat, hanya Allah sendiri di dalam Yesus Kristus.

 

5. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab tidak Ada yang Bisa Menebus Kutuk Taurat

Konsep Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) itu sangat berbeda, meski PB muncul atau terlahir dari PL. Di dalam PL, orientasinya bila melakukan hukum Taurat atau taat maka beroleh berkat, bila tidak taat maka beroleh kutuk (Ul. 28:1-46).
Tetapi dalam PB, orientasi kita mengikut Tuhan atau taat bukan lagi kepada berkat, melainkan hidup sepenuhnya memuliakan Tuhan senantiasa. Ketidak taatan bangsa Israel mendatangkan kutuk, itulah yang disebut kutuk hukum Taurat. Dan kutuk hukum Taurat ini bersifat mengikat sampai keturunan ketiga dan keempat (Kel. 20:5; 34:7; Bil. 14:18; Ul. 5:9).
Apakah Tuhan kejam sampai menghukum hingga keturunan keempat? Tidak, memang Tuhan sangat benci dengan dosa atau ketidak taatan, tetapi Ia sudah memberikan peringatan yang keras terhadap umat-Nya, agar Bangsa Israel hidup berhati-hati dengan penuh ketaatan. Selain itu, Tuhan tahu bahwa didikan seorang ayah yang tidak taat kepada Tuhan akan mempengaruhi anak-anaknya.
 Maksudnya, orang yang tidak taat, tentu didikannya terhadap anaknya juga ialah ketidak taatan kepada Tuhan atau menabur sifat dan karakter tidak taat. Mengapa Tuhan memerintahkan Bangsa Israel untuk membunuh orang Kanaan atau penduduk setempat hingga anak-anak mereka?
Bukan karena Tuhan kejam, tetapi Tuhan melihat kepercayaan orang Kanaan dan sekitarnya, akan mudah mempengaruhi agama atau kepercayaan mereka terhadap Tuhan Allah. Faktanya, benar begitu adanya. Dalam sejarah raja-raja bangsa Israel, banyak raja-raja yang malah menjadi penyembah berhala.
Ketidak taatan bukan saja menghancurkan masa depan, juga mendatangkan kutuk Hukum Taurat yang begitu mengerikan (Ul. 28:15-46). Sebenarnya, Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada Bangsa Israel dengan tujuan mulia. Yakni, agar bangsa pilihan tersebut menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, menjadi terang, dan banyak bangsa-bangsa yang diberkati melalui ketaatan mereka.
Dengan kata lain, Bangsa Israel adalah sentral atau pusat kehadiran Allah di dunia ini. Tetapi dosa ketidak taatan akibat kompromi kepada kepercayaan asing atau penyembahan berhala, begitu mengikat umat pilihan-Nya, sehingga mereka tidak mampu taat sepenuhnya terhadap perintah Tuhan atau Hukum Taurat. Hanya sedikit orang yang hidup takut akan Tuhan di zaman PL.
Fakta membuktikan bangsa Israel gagal melakukan hukum Taurat. Pelanggaran terhadap hukum tertulis tersebut adalah kutuk hukum Taurat. Siapa yang bisa seutuhnya melakukan hukum Taurat? Tidak ada seorang pun.
Bangsa Israel gagal taat terhadap Hukum Taurat, akibatnya mereka mengalami kutuk Hukum Taurat. Bukan saja tidak taat, sifat kompromi mereka terhadap kepercayaan sekitar membuat mereka semakin jauh dari Tuhan.
Tidak ada satu pun tokoh agama Israel yang bisa melepaskan mereka dari kutuk Hukum Taurat. Tidak ada yang bisa dipakai Tuhan untuk mematahkan kutuk Taurat. Bahkan, para Nabi Tuhan pun dibunuh oleh mereka.
Tetapi Tuhan yang kita sembah yang penuh kasih, melihat tidak bisa menyelesaikan perkara yang memedihkan hati-Nya, jika Ia tidak merelakan Kristus Anak Allah untuk datang menebus umat-Nya dari kutuk Hukum Taurat. Kabar baiknya, Kristus rela mati di atas kayu salib untuk menebus umat-Nya dari kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13).
Penderitaan-Nya telah dinubuatkan dan digenapi, karena memang tidak ada jalan lain menyelesaikan kutuk hukum Taurat, selain Kristus harus menanggung kutuk melalui penderitaan-Nya. Seharusnya kita yang menerima hukuman dari ketidak taatan, tetapi Yesus yang menanggung atau menjadi “terkutuk” karena kita.

Jelas alasan terkuat mengapa Yesus harus mati, karena tidak ada satu orang pun yang bisa menebus manusia dari kutuk Hukum Taurat, hanya Allah sendiri di dalam kristus.

 

6. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab tidak Ada yang Bisa Menjadi Korban Penebusan

Dosa tidak bisa diselesaikan dengan cara apapun dan dibayar dengan apapun tanpa korban penghapus dosa. Mengenai pengampunan dosa, Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk mempersembahkan korban (Im. 1:1-17).
Mengapa dosa manusia harus dibayar dengan korban atau dengan darah? Sebab di dalam Alkitab disebut “darah mengadakan pendamaian dengan perantaan nyawa” (Im. 17:11). Tidak bisa tidak, harus ada penebusan yang menjadi korban atau harus ada darah yang dicurahkan agar nyawa manusia yang berharga itu tidak binasa.
Faktanya, pengampunan dosa tidak bisa diselesaikan dengan korban persembahan binatang tanpa cela seutuhnya, sebab setahun sekali umat-Nya harus mempersembahkan korban melalui Imam Besar, yang masuk ke Ruang Maha Kudus setahun sekali untuk mendamaikan antara Allah dan manusia melalui korban atau darah penebusan. Manusia diperdamaikan dengan Allah melalui perantara Imam Besar.
Betapa susahnya seseorang dapat bertemu dengan Tuhan, karena selain harus mempersembahkan korban, juga harus melalui Imam Besar. Bahkan, manusia tidak bisa bertemu langsung dengan Tuhan, sebab ia akan mati seketika bila masuk ke ruang Kudus atau Maha Kudus di Bait Allah.
Imam Besar pun tidak sembarangan bertemu Tuhan, ia harus menyucikan dirinya dan mempersiapkan dirinya, sebab jika ia tidak kudus atau suci, atau tidak dilayakkan Tuhan, maka ia pun akan mati seketika di Ruang Maha Kudus.
Jelaslah tidak ada yang bisa atau layak menjadi korban penebusan bagi manusia. Darah binatang tidak mampu membenarkan manusia seutuhnya. Bahkan Imam Besar pun tidak bisa menjadi pengantara sempurna antara Allah dengan manusia. Ia harus menghadap Tuhan setahun sekali di Ruang Maha Kudus, mendamaikan antara Allah dengan manusia.
Jika korban binatang tidak bisa membenarkan sempurna sekali untuk selamanya, jika Imam Besar juga tidak bisa menjadi pengantara sempurna antara Allah dengan manusia, lantas siapakah yang mampu menjadi penebus sekali untuk selamanya? Tidak seorang pun, kecuali Yesus. Alasan Yesus harus mati bagi dunia, karena hanya Yesus Sang Penebus sempurna bagi manusia.
Peristiwa menakjubkan seputar kematian Yesus, salah satunya ialah tabir Bait Allah terbelah dua (Mat. 27:51). Ini menandakan bahwa tidak ada lagi yang memisahkan antara ruang pelataran luar dan ruang Kudus dengan Ruang Maha Kudus. Tidak perlu lagi Imam Besar masuk ke Bait Allah setahun sekali.
Semua orang bisa langsung datang kepada Tuhan tanpa harus mempersembahkan korban dan melalui Imam Besar, sebab Yesus telah menjadi korban Anak Domba Allah (Yes. 53:7), sekali untuk selama-lamanya melalui kematian-Nya di atas kayu salib.
Dia juga adalah Imam Besar Agung yang memperdamaikan Allah dengan manusia, sekali untuk selamanya melalui pengorbanan-Nya (Ibr. 6:20; Ibr. 8:1-7). Oleh darah Kristus, dosa merah bagai kirmizi menjadi putih seperti salju.
Artinya dosa sebesar apapun yang kita lakukan, jika kita mengaku dosa kita dengan sungguh-sungguh atau dengan hati yang hancur, saat itu kita menerima pengampunan seutuhnya dan dilayakkan menghadap takhta kudus-Nya.

Kita ditebus dengan darah yang mahal, yakni darah Kristus, darah Anak Domba yang tak bercacat cela (1 Pet.1:18-19). Tanpa pengorbanan Kristus, mustahil ada keselamatan bagi dunia.

 

7. Yesus harus Mati bagi Dunia sebab tidak Ada yang Bisa Menginsafkan Dosa Manusia

Manusia pada dasarnya telah menjadi angkuh, egois, atau sombong. Keangkuhannya itu diperoleh ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Pasca memakan buah terlarang dan menyadari ketelanjangannya, bukannya mengakui kesalahannya malah bersembunyi. Bahkan Adam mempersalahkan Hawa dan Hawa mempersalahkan ular.
Begitu gengsinya manusia sehingga mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka bahwa mereka telah berbuat dosa atau tidak taat kepada perintah Allah. Penyebab tunggal manusia begitu angkuh, egois, atau sombong adalah dosa. Karena itu, tidak heran jika kita melihat ada orang yang sulit mengakui kesalahannya sendiri, bahkan kebanyakan ia menyalahkan yang lainnya.
Jangankan orang kaya, orang miskin pun banyak yang angkuh. Apakah ada yang bisa meruntuhkan keegoisan atau keangkuhan manusia di hadapan Tuhan? Tidak ada yang bisa, sebab malah manusia sering membenarkan dirinya sendiri. Apakah agama atau Taurat bisa meruntuhkan keangkuhan seseorang.
Faktanya orang yang semakin kuat pemahaman terhadap Taurat malah semakin angkuhnya dia di hadapan Tuhan dan merasa benar di hadapan Tuhan. Memang tidak semua ahli Taurat atau orang Farisi yang begitu angkuh, tetapi sebagian besar memanglah demikian. Siapakah yang mencari-cari kesalahan Yesus, bukankah mereka yang adalah ahli agama?
Contoh keangkuhan ahli agama adalah sebagaimana perumpamaan Tuhan Yesus mengenai doa seorang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14). Tidak ada yang bisa meruntuhkan keangkuhan diri seseorang kecuali Kristus. Semakin seseorang belajar, semakin banyak pengetahuan, ternyata semakin angkuh orang tersebut dengan kepintaran dan keberhasilannya.
Manusia yang sudah merasa berada di ujung puncak kesuksesan kebanyakan akan semakin sombong, mereka akan sulit menyadari kesombongannya. Malah sebagian beranggapan, mereka tidak membutuhkan Tuhan. Diri mereka sendirilah yang adalah tuhan mereka.
Tetapi Yesus memberikan teladan akan kerendahan hati, ketaatan, dan penundukan diri sepenuhnya di hadapan Tuhan. Sebab bukan saja perkataan-Nya yang rendah, di mana Ia pernah berkata belajarlah kepada-Ku sebab Aku lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29), tetapi juga melalui perbuatan-Nya.
Ia adalah Allah yang suci, kudus, dan mulia, rela mengosongkan diri-Nya (Kenosis) dan mengambil rupa Anak Manusia (Fil. 2:7-8). Bahkan Ia rela lahir di kandang domba yang hina, bukan saja untuk merangkul orang-orang terhina, terbuang, terpinggirkan, dan miskin, juga memperlihatkan kerendahan hati Sang Anak Allah yang Mahatinggi.
Ia juga membuktikan ketaatan-Nya kepada Bapa, hingga menjadi korban, Ia taat sampai mati di atas kayu salib (Fil. 2:8). Tanpa ketaatan Kristus, tentu tidak ada keselamatan bagi dunia. Bisakah Dia tidak taat? Bisa, tetapi Kristus memilih taat kepada Bapa karena Ia mengasihi kita manusia yang berdosa. Bahkan Ia membuktikan penundukan diri-Nya di hadapan Bapa.
Sewaktu di Taman Getsemani, Ia berkata biarlah Kehendak Bapa yang jadi. Sewaktu di salib, Kristus merasakan begitu sangat kesakitan, tetapi Ia tetap tunduk kepada Bapa dan menggenapi rencana Bapa di dalam diri-Nya.
Keteladanan-Nya yang datang melayani bukan untuk dilayani, kerendahan hati, ketaatan, dan penundukkan diri-Nya di hadapan Bapa, bukan saja memberikan teladan kerendahan hati dan ketaatan, juga meruntuhkan keegoisan seseorang, sehingga ia mengakui dosa dan mau merendahkan diri di hadapan Tuhan melalui jamahan Roh Kudus.
Kristus harus mati bagi dunia, agar Roh Kudus di utus Bapa ke dalam dunia sehingga menginsafkan manusia akan dosa. Bahkan Roh Kudus yang adalah Allah, kini tinggal di hati setiap orang percaya. Dia-lah yang menjamah, menginsafkan, menegur, menasihati sehingga seseorang akhirnya menyadari keangkuhannya dan mengakui kesalahan-Nya, serta datang kepada Tuhan (Yoh. 16:8-11).
Roh Kuduslah yang meruntuhkan keangkuhan seseorang, sehingga orang tersebut mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, hidup dalam ketaatan, dan memiliki penundukan diri sepenuhnya kepada Allah.

 

Penutup

Yesus harus mati di kayu salib karena memang hanya Dialah satu-satunya pintu ke Sorga, tidak ada yang lain (Yoh. 14:6). Tidak ada solusi yang lain menyangkut penebusan dosa umat manusia dan hukuman kekal, selain Yesus harus mati di atas kayu salib.
7 alasan penting yang perlu Anda ketahui mengapa Yesus harus mati bagi dunia
Perbuatan baik, moral, dan upaya manusia mencari keselamatan melalui penyucian diri, semedi, atau ritual lainnya, tidak akan bisa membuat seseorang mengalami pengampunan sempurna dan masuk dalam Kerajaan Sorga. Tetapi oleh kematian dan kebangkitan-Nya kita mendapat kesempatan dan anugerah yang besar yang bisa kita peroleh melalui iman kita kepada-Nya.

Artikel 7 alasan yang perlu Anda ketahui mengapa Yesus harus mati bagi dunia ini, jelas hendak memberitahukan kepada kita bahwa bukan Tuhan tidak bisa merancangkan cara keselamatan yang lain, tetapi rancangan keselamatan yang dikerjakan Kristus ini adalah yang sempurna, dan satu-satunya cara terbaik yang Tuhan lakukan.

Baca juga: 3 FAKTA TUHAN ITU ADA TANPA MENGGUNAKAN BUKTI ALKITAB

Kita yang berdosa, melalui kematian-Nya, justru mendapat penghormatan dan tempat istimewa melalui Kristus, yakni di mana kita dilayakkan, dibenarkan, dan dipakai-Nya, apabila kita membuka hati bagi-Nya.

 

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel "7 ALASAN YANG PERLU ANDA KETAHUI MENGAPA YESUS HARUS MATI BAGI DUNIA"  ini, bagikanlah artikel ini kepada sahabat, keluarga, dan rekan-rekan Anda atau melalui akun sosmed (Facebook, Twitter, Google+, Linkedin, dll) Anda, agar mereka juga mengetahui alasan yang tepat mengapa Yesus harus mati bagi dunia. Tuhan Yesus Memberkati...!!!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!